
Wilayah Jabodetabek Kembali Dilanda Banjir Setiap Musim Hujan. Berdasarkan Estimasi Awal Dari Deputi Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kerugian Akeet Banjir Pada Tahun 2025 Diperkirakan Menckapai RP800 Miliar. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan apakah strategi penanggulangan yang diterapkan selama ini benar-benar efektif.
Peneliti Doktororal di Wageningen University & Research Sekaligus Direktur Eksekutif Di Water Network Initiative, Erbi Setiawan Mengatakan Pendekatan Pengendalian Banjir di Indonesia Masih Terlalu Berorientasi Pada Intervensial DAN ALIH FUNGSI LAHAN DI KAWASAN HULU. Padahal, Permasalanahan Ini Jauh Lebih Kompleks Dan Memerlukan solusi Yang Lebih Holistik Serta Berbasis Pendekatan Ilmiah Dan Tata Kelola Yang Berkelanjutan.
“Udara Secara Alami Mengalir Ke Daerah Yang Lebih Rendah, Tetapi Sering Kali Kita Lupa Bahwa Hujan Tidak Hanya Turun Di Wilayah Hulu. Di Jabodetabek, Curah Hujan Tinggi Tidak Hanya Dijadi Dijadi Hulu, Tinggi Tinggi Tinggi Hanya Dijadi Hula, Hulah Tinggi Tinggi Hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya hanya Hilir.
Ia Menambahkan Meskipun Alih Fungsi Lahan di Kawasan Hulu Merupakan Salah Satu Faktor Utama Yang Berkontribusi Terhadap Banjir Di Hilir, Penanganan Yang Hanya Berpusat Di Hulu Tidaklah Cukup. Diperlukan Pendekatan Terpadu Yang Mencakup Seluruh Kawasan Aliran Sungai, Delangan Mempertimbangkan Aspek Tata Kelola Air, Kapasitas drainase, serta strategi adaptasi berbasa ekosistem.
Erbi Mencontohkan Strategion Yang Telah Skanses Diterapkan Di Belanda, Salah Satu Negara Delangan Sistem Pengelolaan Banjir Paling Maju Di Dunia. Kamar Proyek untuk Sungai Anggota Lebih Banyak Ruang Bagi Sungai Unkalir Secara Alami Delangan Memperluas Daerah Banjir Dan Prenciptakan Ruang Resapan Air. Selain Itu, Konsep Flood Defense Multifungsi memunckinan Suatu Kawasan Yang Rawan banjir tetap memilisi manfaat ekologi dan ekonomi saat kondisi normal, namun dapat berubah menjadi area tampungan air saat saat terjadi banjir.
Dalam Kontek Jabodetabek, Erbi Menankan Bahwa Penanganan Banjir Haru Bersifat Holistik Dan Tidak Hanya Bergantung Pada Infrastruktur Teknis Semata.
“Pembangunan Bendungan Dan Kanal Memang Dapat Membantu Mengendalikan Banjir, Tetapi Tanpa Perencaanaan Tata Ruang Tepat, Kita Hanya Menunda Masalah, Bukan Myyelesaanya,” Jelasnya.
IA Menambahkan Bahwa Diperlukan Kawasan Yang Secara Khusus Difungsikan Sebagai Area Retensi Udara UNTUK Menampung Limpasan Saik Volume Air Meningkat. Namun, Dalam Kondisi Normal, Ruang-Ruang ini Dapat Dimanfaatkan untuk Keperluan Rekreasi, Fungsi Ekologis, Area Maupun Hijau Yang Mendukung Keberlanjutan LINGKUNGAN.
Pendekatan ini Tidak Hanya Meningkatkan Kapasitas Penyerapan Air, Tetapi BUGA MANDIKAN MANFAAT SOSIAL DAN EKOLOLOGI BAGI MASYARAKAT. Selain Strategi Berbasis Tata Ruang, Pengelolaan Sungai Memang Memang Memanghkan Intervension Struktural Guna Menjaga Kapasitas Dan Kestabilan Aliran Air. Salah Satu Tantangan Terbesar Adalah Sedimentasi Yang Dipercepat Oleh Aktivitas Manusia, Seperti Pembuangan Sampah Dan Limbah Ke Sungai.
“Kita Sering Menyalahkan Curah Hujan Tinggi Sebagai Penyebab Banjir, Padahal Penyempitan Sungai Akiat Sampah Dan Sedimentasi Yang Tenjelola Demat Baik Justru Menjadi Faktor Utama Kondari Kondonah Kondonah Kondonah Kondonah Kondonah Kondonah Kondonah Kondonah Kondonah Kondonah Kondonah Kondonah Kondonah Kondonah.”
Lebih Lanjut, Erbi Mengusulkan Pembentukan Institusi Khusus Yang Bertanggung Jawab Atas Pengendalian Banjir Dan Pengelolaan Sumber Daya Air Secara Terintegrasi. “Saat ini, Pengelolaan Sumber Daya Air Masih Terlalu Berfokus Pada Pembangunan Infrastruktur Fisik, Padahal Solusi Yang Dibutuhkan Tenjak Selalu Berifat Tengiaki Tanen Tanen Tuanci Tuanci Khusus Ini, Strategi Dapapi, Hanya Pengendalian Banjir, Tetapi JUGA Pengelolaan Air Bersih Dan Limbah Sebagai Bagian Dari Tata Kelola Sumber Daya Air Yang Holistik, ”Jelasnya.
IA Menambahkan Bahwa Institusi Ini Juga Dapat Berperan Dalam Mengembangkangkan Mekanisme Pembiayaan Yang Lebih Berkelanjutan, Termasuk Melalui Skema Public-Private Partnership (PPP). “Dengan Keterlibatan Sektor Publik Dan Swasta, Pengelolaan Sumber Daya Air Dapat Dapatukan Secara Lebih Efektif Dan Berkelanjutan, Tanpa Sepenuhnya Bergantung Pada Anggara Pemerintah,” Ujarnya.
Sebagai Contoh, Belanda Memilisi Sistem Otoritas Air (Waterschappen)Yanggung JawaB atas Pengelolaan Air, Mulai Dari Pencegahan Banjir, Pengelolaan Kualitas Air, Hingan Distribusi Sumber Daya Air Secara Efisien. Otoritas Air Di Belanda Bekerja Secara Independen Delangan Sumber Pendanan Dari Pukak Udara, Sedingga Pengelolaan Air Dilakukan Secara Berkelanjutan Tanpa Tergantung Sepenuhya Pemerintah Pusat.
DENGAN BEBERAPA PENYESUANIAN, Model Implementasi Serupa di Indonesia Dapat Membantu Meningkatkan Efektivitas Tata Kelola Air Dan Mitigasi Bencana Banjir Secara Lebih Komprehensif. “Selama Kita Masih Berkutat Delangan Solusi Yang Sama, Banjir Akan Terus Menjadi Masalah Tahunan. Saatnya Berpikir Lebih Luas Dan Menerapkan Strategi Yang Lebih Inovatif Agar Kita Tidak Terjebak Dalam Pola Keman. (FAJ/M-3)

