
PAGI tempatnya perlahan di Auditorium 3 Dimensi Kota Bontang. Di sudut ruangan, gurat-gurat lelah di wajah puluhan lanjut usia (lansia) perlahan bergantian dengan senyuman simpul. Hari itu, Sabtu (4/7/2026), menjadi babak baru yang menghangatkan bagi mereka yang kerap kali bertarung dalam sepi di tengah dinamika modernisasi kota.
Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Yayasan Pandu Qolby mengambil peran nyata mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkannya. Yayasan ini menyerahkan Bantuan Paket Kebutuhan Dasar Program Home Care kepada 55 lansia di Kota Bontang. Agenda kemanusiaan ini tidak sekadar menjadi ajang seremonial bagi-bagi paket sembako, melainkan juga dirangkai dengan edukasi intensif kesehatan guna menjaga kualitas hidup para orang tua di sisa usianya.
Langkah taktis yang diambil oleh Yayasan Pandu Qolby itu memiliki fondasi yang kuat. Ketua Yayasan Pandu Qolby, Suratmi, memaparkan bahwa bantuan sosial strategis tersebut bersumber dari Bantuan Sosial Terencana Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Program Home Care ini secara spesifik diarsiteki untuk menyasar lansia terlantar yang selama ini bertahan hidup dalam keterbatasan dan divalidasi ke dalam Data Terpadu Sosial Nasional (DTSN).
Penyebaran para penerima manfaat ini mencakup wilayah yang cukup luas, menyentuh kantong-kantong organisasi padat hingga wilayah pesisir di Kota Bontang. Tercatat 55 penerima manfaat lansia tersebut berasal dari delapan kelurahan dengan sebaran wilayah yang paling banyak berada di Berbas Tengah (17 orang) dan Berbas Pantai (14 orang). Sementara kelurahan lain meliputi Api-Api (6 orang), Bontang Baru (3 orang), Bontang Kuala (2 orang), Guntung (8 orang), Gunung Elai (1 orang), dan Tanjung Laut Indah (4 orang).
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaenimempertegas posisi pemerintah daerah dalam menanggapi isu kesejahteraan sosial. Bagi Neni, perhatian mendalam terhadap kelompok rentan bukan sekedar kewajiban moral, melainkan instrumen hukum baku yang terikat secara struktural ke dalam kebijakan daerah. Prioritas pembangunan ini secara resmi tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan direalisasikan melalui APBD Kota Bontang Tahun 2026.

“Program-program sosial sudah kami masukkan ke dalam RPJMD Kota Bontang dan sudah tereksekusi di dalam APBD Kota Bontang tahun 2026. Salah satunya bantuan untuk anak-anak penyandang disabilitas, anak-anak tidak mampu, orang dewasa tidak mampu, baik lansia maupun keluarga tidak mampu. Kami memberikan bantuan sebesar Rp300 ribu per bulan,” ujar Neni.
Kebijakan stimulus tunai tersebut diproyeksikan menjadi bantalan ekonomi yang krusial di tingkat akar rumput. Namun, skema ini memerlukan kontrol publik yang ketat agar pelaksanaannya berjalan tepat sasaran. Oleh karena itu, Wali Kota mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk aktif mengawal dan memberikan umpan balik demi penyempurnaan program ke depan.
“Kalau ada saran, silakan disampaikan ke Dinas Sosial,” katanya.
Menurut Neni, esensi dari gerakan Home Care terletak pada pendekatan personalnya. Petugas dan relawan tidak hanya menunggu di kantor, melainkan aktif menjemput bola, mengetuk pintu demi pintu rumah para lansia yang mulai rapuh dimakan waktu. Melalui kolaborasi ini, keterbatasan fisik para lansia yang sering menghalangi mereka untuk mengakses fasilitas umum dapat diatasi dengan kehadiran layanan langsung di perumahan mereka.
“Pemerintah Kota Bontang menyampaikan terima kasih atas dedikasi LKS Yayasan Pandu Qolby selama ini dalam membantu melaksanakan dan berkolaborasi menyukseskan program-program Pemerintah Kota Bontang. Sinergi seperti ini sangat berarti untuk memastikan bantuan sosial masyarakat dapat menjangkau yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.
Pertemuan di Auditorium 3 Dimensi hari itu pun ditutup dengan sesi edukasi kesehatan interaktif. Para lansia mengajarkan pola hidup sehat di usia senja, manajemen nutrisi, hingga pemeriksaan fisik sederhana. (RO/I-2)

