
KEGIATAN belajar-mengajar di sekolah berlangsung dalam irama yang nyaris serupa. Guru menyampaikan materi, memberikan penugasan, menilai hasil belajar, lalu melanjutkan kelas berikutnya. Di tengah rutinitas tersebut, apakah guru pernah memberikan ruang bagi dirinya sendiri, berhenti sejenak, dan bertanya, “Apakah pembelajaran yang berlangsung sudah benar-benar bermakna bagi siswa?”
KEBUTUHAN YANG TERLUPAKAN
Melakukan seluruh rutinitas tersebut memanglah tugas guru. Mengubah kondisi siswa, menciptakan lingkungan belajar yang positif, memotivasi, dan membangun kepercayaan dan kedekatan emosional haruslah menjadi tugas yang jauh lebih utama. Hasil akhir dari proses belajar-mengajar menjadi cerminan seluruh proses yang telah dilalui. Untuk mendapatkan hasil terbaik tidak melakukan refleksipembaruan, dan berbenah harusnya menjadi urgensi bagi guru?
Refleksi seringkali dipahami sebagai tugas tambahan, padahal di sanalah guru dapat menata kembali arah pembelajaran. Ketika refleksi tidak mempunyai tempat yang memadai, proses mengajar berpotensi berjalan tanpa arah yang jelas, bukan karena berkurangnya dedikasi guru, melainkan karena minimnya kesempatan untuk memaknai pengalaman belajar dan mengajar di kelas. Tanpa refleksi, guru di kelas akan semakin buta arah.
Penting bagi guru dan siswa untuk melakukan refleksi. Pelaksanaan refleksi siswa dapat menjadi proses mengukur pemahaman dan pencapaian diri. Apa saja materi yang sudah dipahami, kelemahan dan kekurangan dalam belajar, serta melihat apakah target belajar sudah tercapai. Siswa juga dapat melakukan refleksi untuk menilai bagaimana cara guru mengajar, memberikan instruksi, hingga cara guru mengelola kelas. Hasil refleksi siswa menjadi data penting untuk meningkatkan kinerja mengajar guru. Farrell (2015) menegaskan refleksi membantu guru menyadari prinsip, pandangan, praktik, dan respons emosionalnya dalam mengajar. Kesadaran itu penting karena mengajar bukan sekadar aktivitas kognitif, tetapi juga pengalaman emosional. Tanpa refleksi, guru berisiko memendam kelelahan, frustrasi, dan mengecewakan yang lambat laun menggerus makna profesinya. Di titik itulah refleksi menjadi penopang arah pembelajaran.
MEMBANGUN BUDAYA KELAS
Eksekusi refleksi guru dan siswa mudah dilakukan. Hasil refleksi akan mengarahkan dan membentuk pola belajar dan mengajar menjadi lebih terarah. Di Sekolah Sukma Bangsa, guru-guru melakukan refleksi secara rutin. Penulis juga telah melakukan refleksi dengan berbagai cara dan terus memutar pelaksanaan refleksi tersebut hingga menemukan bentuk refleksi yang tepat.
Pertama, refleksi dengan mendengarkan. Refleksi dapat dimulai dengan kegiatan paling sederhana, yaitu mendengarkan. Guru dapat mengaktifkan keterampilan mendengarkan untuk memulai kegiatan refleksi. Memberikan ruang bagi siswa untuk bercerita. Hal itu dapat membangun kedekatan emosional antarguru dan siswa. Dengan cara tersebut, guru dapat mulai membiasakan siswa bercerita dan melakukan refleksi dengan cara verbal. Beed (2005) menyatakan, “Salah satu cara terpenting untuk mendorong siswa melakukan refleksi adalah dengan memberi mereka kesempatan untuk berpikir kritis tentang pengalaman belajarnya, memaafkan, mendengarkan serta mempertimbangkan perspektif orang lain, dan menuliskan pengalaman serta persepsi mereka.”
Kedua, refleksi sambil bermain. Kreativitas dalam memanfaatkan benda sekitar menjadi inti refleksi itu. Kreatif tak selalu berarti menciptakan hal baru. Mengkreasikan, menggabungkan, dan memanfaatkan sesuatu yang pernah ada juga sebuah kreativitas. Guru dapat menciptakan permainan sederhana untuk melakukan refleksi. Bermain ular tangga, misalnya. Sambil bermain, guru menyisipkan beberapa pertanyaan reflektif, seperti materi apa yang sudah dipahami hari ini, bagaimana cara guru menyampaikan materi, dan meminta siswa menyampaikan saran dan masukan terkait dengan kegiatan belajar yang baru saja berlangsung. Pertanyaan diperoleh dari bermain dadu dan ular tangga. Setiap angka yang muncul dari dadu, memiliki pertanyaan reflektif masing-masing.
Ketiga, refleksi melalui penulisan cerita naratif. Menceritakan perasaan lewat tulisan menjadi salah satu cara untuk melakukan refleksi. Dengan beberapa pertanyaan reflektif seperti sebelumya, siswa diajarkan untuk bercerita dalam bentuk narasi. Melakukan refleksi dengan cara itu memberikan kesempatan bagi siswa untuk merefleksikan diri dengan cara yang lebih terstruktur. Siswa dapat menulis secara bebas bagaimana perasaan dan pengalaman mereka dalam proses belajar. Menurut Jerome Bruner dalam Tukang daging (2006), melalui cerita, pengalaman yang kita alami disusun menjadi sebuah kerangka yang jelas sehingga kita dapat memahaminya sebagai suatu kenyataan yang utuh dan bermakna. Refleksi menggunakan cerita naratif juga dapat mengakomodasi siswa yang kesulitan menyatakan perasaan dengan cara verbal. Penulis merekomendasikan jenis refleksi itu sebagai refleksi yang paling mudah untuk dipraktikkan.
Melaksanakan refleksi secara bervariasi bukan sekedar strategi pembelajaran, melainkan juga ikhtiar membangun ruang aman di kelas. Ketika siswa merasa nyaman, mereka berani menyuarakan pengalaman, saran, dan harapan. Dari keterbukaan itu, pembelajaran menemukan arah yang lebih jujur dan bermakna.
DARI BEBAN KE PEMBIASAAN
Proses berbenah dan meningkatkan kapasitas diri guru bermula dari sebuah refleksi. Guru harus meyakini bahwa refleksi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tugas profesionalisme guru. Refleksi sudah seharusnya menjadi kebutuhan, bukan sekedar kewajiban. Memang sulit saat memulai dan terkesan menambah beban. Pada awal penerapan refleksi, muncul banyak kendala dan tantangan. Keterbatasan waktu guru, jadwal padat, serta kesulitan menyiapkan dan memilih jenis refleksi. Namun, berdasarkan pengalaman penulis, hal tersebut dapat diatasi dengan beberapa strategi.
Kendala keterbatasan waktu dalam menyiapkan dan memilih jenis refleksi dapat diselesaikan dengan mengatur kembali waktu dan rencana pengajaran guru. Di awal semester, guru dapat membuat garis masa kapan akan melaksanakan refleksi. Kemudian pemilihan jenis refleksi, guru dapat melakukan asesmen pada awal semester terkait dengan gaya belajar siswa. Dari asesmen itu guru mendapatkan data gaya belajar mereka sehingga guru dapat memilih dan memvariasikan jenis refleksi sesuai dengan kebutuhan siswa.
Kini, refleksi bukan lagi tentang beban dan hambatan, melainkan pembiasaan. Setelah satu semester, siswa lebih terbuka menyampaikan kesulitan belajar mereka. Eksekusi refleksi menyederhanakan guru membangun hubungan emosional dengan siswa, serta mengasah kepekaan dan kepedulian terhadap situasi sekitar. Refleksi juga meningkatkan kinerja mengajar guru secara tepat karena bersumber langsung dari siswa. Ketika pembelajaran dirancang berdasarkan hasil refleksi yang jujur dan mendalam, proses belajar menjadi lebih bermakna. Pada akhirnya, pembelajaran yang terarah akan membawa dampak positif bagi guru dan siswa.

