
PRESIDEN Iran Masoud Pezeshkian menyebutkan sejumlah negara telah memulai upaya mediasi untuk menyelesaikan konflik yang terus meluas di Timur Tengah. Namun ia tidak mengungkap negara mana saja yang terlibat dalam upaya tersebut.
Dalam unggahan di media sosial, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap berkomitmen terhadap perdamaian regional, namun tidak akan ragu membela pelestarian negaranya.
“Beberapa negara telah memulai upaya mediasi. Mari kita tegaskan: kami berkomitmen pada perdamaian yang langgeng di kawasan, tetapi kami tidak ragu untuk mempertahankan martabat dan kedaulatan bangsa kami,” tulis Pezeshkian yang dikutip dari BBC. Ia menambahkan bahwa proses mediasi seharusnya ditujukan kepada pihak yang memicu konflik tersebut.
“Mediasi seharusnya ditujukan kepada mereka yang meremehkan rakyat Iran dan memicu konflik ini,” lanjutnya.
Pernyataan Pezeshkian muncul ketika negara-negara Arab tetangga Iran tengah mempertimbangkan tanggapan mereka terhadap serangan rudal Iran yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat serta infrastruktur sipil dan energi di wilayah mereka.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan Washington tidak akan melakukan kesepakatan apa pun dengan Teheran kecuali Iran menyerah tanpa syarat.
“Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali penyerahan tanpa syarat,” tulis Trump melalui platform media sosial miliknya, Truth Social.
Ia juga menyatakan Amerika Serikat bersama sekutu akan membantu membangun kembali Iran setelah konflik berakhir.
“Setelah itu, dan setelah terpilihnya pemimpin yang hebat dan dapat diterima, kami bersama banyak sekutu dan mitra yang luar biasa serta sangat berani akan bekerja tanpa lelah untuk membawa Iran kembali dari ambang kehancuran, mewujudkannya secara ekonomi lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari sebelumnya,” sebut Trump.
Trump menutup pernyataannya dengan optimisme mengenai masa depan Iran. “IRAN AKAN MEMILIKI MASA DEPAN YANG BESAR. 'JADIKAN IRAN HEBAT LAGI (MIGA!).',” tegasnya.
Memasuki pekan pertama perang yang semakin meluas, dampak konflik mulai dirasakan di berbagai wilayah Timur Tengah, termasuk negara-negara yang tidak menjadi sasaran serangan langsung.
Di Mesir, perang memberi tekanan tambahan pada perekonomian yang sudah rapuh. Sejumlah perusahaan pelayaran global mulai mengalihkan rute kapal dari Terusan Suez, yang merupakan sumber utama devisa negara tersebut. Kondisi itu juga berpotensi memukul sektor pariwisata serta mempengaruhi jutaan warga Mesir yang bekerja di negara Teluk.
Mesir sendiri bantuan merupakan sekutu dekat Amerika Serikat dan penerima militer besar dari Washington. Namun negara itu memiliki kebijakan keamanan nasional yang tidak mengizinkan keberadaan pangkalan militer asing di wilayahnya.
Di Suriah, pemerintah meningkatkan pengerahan pasukan di perbatasan dengan Lebanon dan Irak untuk mencegah infiltrasi kelompok bersenjata yang didukung Iran, terutama Hizbullah. Kantor berita pemerintah Suriah melaporkan beberapa orang, termasuk anak-anak, terluka akibat pecahan rudal Iran yang jatuh di wilayah negara itu.
Di Tepi Barat yang diduduki Israel, sejumlah pos pemeriksaan dan gerbang militer ditutup pada awal konflik Iran dengan alasan keamanan. Penutupan tersebut membatasi pergerakan warga Palestina di wilayah tersebut.
Serpihan rudal Iran juga dilaporkan jatuh di sejumlah desa Palestina. Namun warga Palestina harus mengandalkan sirene peringatan dari organisasi Israel atau aplikasi yang biasanya digunakan warga Israel untuk mengetahui adanya serangan roket.
Sementara itu di Jalur Gaza yang telah lama dilanda perang, bantuan kemanusiaan kembali masuk melalui perlintasan Kerem Shalom setelah Israel menutupnya selama tiga hari dengan alasan ancaman serangan Iran.
Namun perlintasan Rafah yang berbatasan dengan Mesir, yang menjadi jalur utama bantuan medis, masih tetap ditutup. Pembicaraan mengenai inisiatif perdamaian Gaza yang diusulkan Trump juga dilaporkan tertunda karena sejumlah pihak yang terlibat kini terseret dalam konflik regional yang semakin meluas. (Ndf/P-3)

