
SEJAK ditemukan hampir dua abad yang lalu, huruf braille telah menjadi jembatan bagi jutaan tunanetra di seluruh dunia untuk mengakses informasi, pendidikan, dan berkomunikasi dengan dunia luar. Sistem tulisan taktil ini bukan sekedar rangkaian titik-titik yang timbul di atas kertas, melainkan sebuah revolusi yang membuka pintu pengetahuan bagi mereka yang tidak dapat melihatnya.
Namun, ada satu kelompok yang jarang berdiskusi dalam perbincangan tentang braille. Padahal bagi mereka, braille bukan hanya alat bantu, melainkan benar-benar seperti nyawa yang menghubungkan mereka dengan dunia: penyandang disabilitas tunanetra tuli.
Sejarah singkat braille: dari medan perang hingga kelas
Huruf braille ditemukan oleh Louis Braille, seorang pemuda tunanetra asal Prancis, pada tahun 1824 ketika ia baru berusia 15 tahun. Louis Braille kehilangan penglihatannya akibat kecelakaan di bengkel ayahnya saat ia masih kecil. Terinspirasi dari sistem nightwriting yang dikembangkan oleh Charles Barbier untuk tentara agar bisa membaca pesan dalam gelap tanpa cahaya, Louis Braille kemudian mengarahkan sistem tersebut menjadi enam titik yang bisa dibaca dengan ujung jari (Perkins School for the Blind, 2023).
Yang menarik, meskipun sistem braille sudah ditemukan pada tahun 1824, baru pada tahun 1854, dua tahun setelah Louis Braille meninggal dunia, sistem ini mulai diadopsi secara resmi di Prancis. Kini, braille telah diadaptasi menjadi lebih dari 130 bahasa di seluruh dunia dan menjadi standar internasional untuk literasi tunanetra (UNESCO, 2019). Setiap bulan Januari, tanggal 4, bertepatan dengan hari lahir Louis Braille, dunia memperingati Hari Braille Sedunia sebagai penghargaan atas kontribusi luar biasa ini.
Braille bukan hanya untuk tunanetra
Yang sering luput dari perhatian masyarakat adalah fakta bahwa braille tidak hanya digunakan oleh tunanetra saja. Penyayang penyandang disabilitas tunanetra tuli, atau yang sering disebut tunanetra-rungu, juga sangat bergantung pada braille. Bagi mereka yang kehilangan dua indera sekaligus, penglihatan dan pendengaran, pilihan untuk mengakses informasi menjadi sangat terbatas.
Di era digital saat ini, memang banyak tunanetra yang beralih menggunakan teknologi seperti screen reader, aplikasi pembaca layar yang mengubah teks menjadi suara. Namun, bagi tunanetra tuli, teknologi suara seperti ini tidak bisa digunakan. Braille menjadi satu-satunya jembatan yang menghubungkan mereka dengan dunia informasi, komunikasi, pendidikan, dan pekerjaan. Tanpa Braille, mereka akan dilindungi sepenuhnya dari seluruh dunia.
Kesenjangan aksesibilitas: bahasa isyarat sentuh yang belum terstandardisasi
Salah satu tantangan terbesar bagi komunitas tunanetra tuli di Indonesia adalah belum adanya standarisasi bahasa isyarat sentuh atau bahasa isyarat taktil. Berbeda dengan bahasa isyarat untuk tuli yang sudah memiliki standar nasional, yaitu Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), bahasa isyarat sentuh untuk tunanetra tuli masih belum memiliki standarisasi yang jelas di Indonesia.
Padahal, di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, bahasa isyarat taktil sudah menjadi bagian dari sistem komunikasi yang diakui dan diajarkan secara formal. Di Amerika Serikat, misalnya, tactile American Sign Language (TASL) telah dikembangkan dan diajarkan di berbagai lembaga pendidikan khusus untuk tunanetra tuli (National Center on Deaf-Blindness, 2020). Di Indonesia, kondisinya sangat berbeda. Belum ada lembaga atau lembaga yang secara khusus mengembangkan dan melatih bahasa isyarat yang disentuh dengan standar yang jelas.
Bahkan saya sendiri, sebagai penulis yang merupakan penyandang disabilitas tunanetra tuli, tidak menguasai bahasa isyarat sentuh secara formal karena memang belum ada tempat atau lembaga yang secara khusus mengajarkannya dengan standar yang jelas di Indonesia.
Senjangan ini semakin terasa ketika kita membandingkannya dengan perjuangan komunitas tuli di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, advokasi untuk pengenalan bahasa isyarat semakin gencar. Terlebih lagi, pada tahun 2016, Indonesia meratifikasi Konvensi Hak-Hak Penyayang Disabilitas melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, yang di dalamnya mengakui hak penyandang disabilitas untuk menggunakan bahasa isyarat. Namun, pengakuan dan dukungan terhadap tunanetra tuli masih jauh tertinggal.
Braille sebagai alat komunikasi utama tunanetra tuli
Dalam kehidupan sehari-hari, ketika seorang tunanetra tuli ingin berkomunikasi dengan orang lain, braille menjadi salah satu alat utama. Misalnya, ketika seseorang ingin menyampaikan pesan kepada saya, mereka bisa menuliskannya dalam braille di telapak tangan saya, atau menggunakan mesin ketik braille portabel. Ini adalah cara paling efektif dan langsung.
Sementara tunanetra tanpa gangguan pendengaran dapat mengakses dunia digital melalui pembaca layar yang membacakan teks dengan suara, tunanetra tuli mengaksesnya menggunakan perangkat yang disebut braille display atau refreshable braille display. Alat ini adalah perangkat elektronik yang terhubung dengan komputer, smartphone, atau tablet, dan menampilkan teks dalam bentuk braille secara dinamis. Titik-titik braille pada perangkat ini naik dan turun secara otomatis sesuai dengan teks yang ditampilkan di layar.
Dengan tampilan braille, seorang tunanetra tuli bisa membaca email, browsing internet, membaca dokumen, bahkan menulis artikel seperti ini. Namun, ada satu masalah besar: harga.
Kesenjangan ekonomi: tampilan braille yang tak terjangkau
Tampilan braille adalah perangkat yang sangat mahal. Harga untuk satu unit braille display berkisar antara Rp20 juta hingga Rp100 juta, tergantung pada jumlah sel braille yang tersedia. Sebagai gambaran, tampilan braille dengan 40 sel bisa mencapai harga sekitar Rp40 hingga Rp60 juta, sementara yang memiliki 80 sel bisa mencapai lebih dari Rp100 juta.
Menurut data dari American Foundation for the Blind (2022), harga braille display di pasar internasional berkisar antara US$2.000 hingga US$15.000 (sekitar Rp32 juta hingga Rp240 juta), tergantung spesifikasi dan jumlah sel yang tersedia. Harga yang sangat tinggi ini disebabkan oleh teknologi yang digunakan masih kompleks dan produksinya terbatas. Hal ini membuat tampilan braille menjadi barang mewah yang tidak terjangkau oleh sebagian besar tunanetra tuli, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Selain harganya yang mahal, perangkat ini juga sangat sulit didapat di Indonesia. Hampir semua tampilan braille harus diimpor dari luar negeri, dan tidak ada distributor resmi yang menyediakan layanan purna jual atau pelatihan penggunaan. Bahkan saya sendiri, sebagai penulis yang merupakan tunanetra tuli, tidak memiliki braille display. Saya masih memiliki sedikit sisa pendengaran, sehingga bisa mendengarkan screen reader menggunakan headphone dengan volume maksimal. Namun, saya sadar bahwa suatu hari nanti, ketika pendengaran saya menurun lebih jauh, akses saya terhadap informasi akan sangat terbatas tanpa tampilan braille.
Pentingnya braille bagi kehidupan tunanetra tuli
Braille bukan sekedar alat bantu baca tulis. Bagi tunanetra tuli, braille adalah akses ke pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Tanpa braille, seorang tunanetra tuli tidak bisa belajar secara mandiri, tidak bisa bekerja di bidang yang membutuhkan akses informasi, dan akan sangat terlindungi dari masyarakat.
Misalnya, dalam dunia pendidikan, seorang siswa tunanetra tuli membutuhkan buku teks dalam braille, catatan kuliah dalam braille, dan mengakses materi digital melalui tampilan braille. Tanpa ini, mereka tidak akan bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Di dunia kerja, akses ke komputer dan internet melalui tampilan braille memungkinkan tunanetra tuli untuk bekerja sebagai programmer, penulis, analis data, atau profesi lain yang membutuhkan literasi digital.
Menurut World Federation of the Deafblind (2018), diperkirakan ada sekitar 0,2 hingga 2% dari populasi dunia yang mengalami kebutaan-rungu dalam berbagai tingkatan, yang berarti sekitar 15 hingga 150 juta orang di seluruh dunia. Di Indonesia, data resmi tentang jumlah penyandang disabilitas tunanetra tuli masih sangat minim, yang menunjukkan betapa tidak terlihatnya kelompok ini dalam kebijakan publik.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Consortium on Deaf-Blindness (2021) menunjukkan bahwa literasi braille secara signifikan meningkatkan tingkat kemandirian dan kualitas hidup penyandang tunanetra tuli. Mereka yang menguasai braille memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan pekerjaan yang layak.
Harapan untuk masa depan braille dan tunanetra tuli
Hari Braille Sedunia bukan hanya momen untuk merayakan penemuan luar biasa ini, tetapi juga untuk mengingatkan kita semua tentang pentingnya aksesibilitas bagi semua orang, termasuk tunanetra tuli. Braille harus terus menjadi tulang punggung literasi bagi tunanetra dan tunanetra tuli di seluruh dunia. Meskipun teknologi digital terus berkembang, braille tidak boleh ditinggalkan.
Saya berharap, di depannya, akan ada lebih banyak upaya untuk membuat tampilan braille lebih terjangkau dan mudah didapat di Indonesia. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi penyandang disabilitas perlu bekerja sama untuk menyediakan akses yang lebih baik bagi tunanetra tuli. Subsidi atau program bantuan untuk pembelian braille display bisa menjadi salah satu solusi. Beberapa negara seperti Norwegia dan Swedia telah menerapkan program subsidi penuh untuk tampilan braille bagi penyandang disabilitas tunanetra tuli (Nordic Center for Welfare and Social Issues, 2020).
Selain itu, standarisasi bahasa sentuh juga harus menjadi prioritas. Pemerintah Indonesia perlu segera membentuk lembaga atau tim khusus yang mengembangkan dan melatih bahasa isyarat yang menyentuh standar nasional. Tunanetra tuli tidak dapat terus-menerus dipelihara karena tidak adanya sistem komunikasi yang jelas dan diakui secara nasional.
Sebagai penyandang disabilitas tunanetra tuli, saya dan teman-teman lainnya ingin terus melestarikan dan memperkenalkan braille kepada masyarakat luas. Braille bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga masa depan kami. Kami ingin dunia tahu bahwa kami ada, bahwa kami memiliki hak yang sama untuk belajar, bekerja, dan berkontribusi kepada masyarakat.
Saya membayangkan, jika suatu hari nanti pendengaran saya benar-benar hilang, tanpa tampilan braille, saya akan kehilangan akses ke dunia digital yang selama ini menjadi jendela saya ke dunia. Tanpa tampilan braille, saya tidak akan bisa menulis artikel seperti ini, tidak bisa bekerja, dan tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain secara efektif.
Oleh karena itu, di Hari Braille Sedunia, saya ingin mengajak semua pihak untuk lebih peduli terhadap keberadaan kami, tunanetra tuli. Kami butuh dukungan, kami butuh aksesibilitas, dan kami butuh pengakuan bahwa braille adalah nyawa kami. Tanpa braille, kami tidak bisa hidup dengan harapan di dunia yang semakin digital ini.
Mari kita jaga braille, mari kita dukung tunanetra tuli, dan mari kita ciptakan dunia yang lebih inklusif untuk semua.

