
HEAD of Research sekaligus Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai bahwa pergerakan imbal hasil (menghasilkan) Obligasi pemerintah menjadi salah satu faktor kunci yang mempengaruhi tren penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Ia menjelaskan bahwa keinginan tren positif IHSG sangat dipengaruhi oleh sejumlah indikator makroekonomi yang menjadi fokus investor, khususnya nilai tukar rupiah serta pergerakan menghasilkan obligasi pemerintah.
“Jika rupiah mampu bertahan menguat dan menghasilkan SBN (Surat Berharga Negara) tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya di atas 7,3% menuju kisaran yang lebih rendah, premi risiko Indonesia akan menurun,” ucapnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa (16/6).
“Kondisi tersebut akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham,” lanjut Rully.
Pada sepekan terakhir, IHSG menunjukkan tren kenaikan yang konsisten. Pada Selasa (9/6), IHSG berada di level 5.344,69, kemudian naik menjadi 5.744,06 pada Rabu (10/6), meningkat lagi ke 5.899,27 pada Kamis (11/6), mencapai 5.960,27 pada Jumat (12/6), dan ditutup di posisi 6.118,73 pada Senin (15/6).
Menurut Rully, penguatan IHSG saat ini masih didorong oleh faktor technical rebound, yang juga ditopang oleh kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang lebih tegas serta meredamnya ketegangan geopolitik global.
Bank Indonesia sendiri telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Kecepatan) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen sejak 9 Juni lalu.
Di sisi lain, kabar baik mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang dilaporkan telah mencapai kesepakatan damai dan akan menandatangani nota kesepahaman (nota kesepahaman/MoU) pada 19 Juni mendatang, turut memberikan sentimen positif bagi pasar.
Perkembangan tersebut membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menghasilkan obligasi pemerintah, sehingga kondisi fundamental perekonomian Indonesia dinilai lebih baik dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Meski begitu, Rully menduga pelaku pasar masih akan mencermati dinamika sentimen global, arah kebijakan moneter, serta stabilitas pasar keuangan domestik.
Ia menambahkan bahwa meskipun mulai terlihat adanya perbaikan, investor masih menunggu sinyal yang lebih kuat terkait penurunan premi risiko dan stabilitas rupiah sebelum kembali meningkatkan optimisme di pasar.
“Arus modal asing masih cenderung mengecewakan,” imbuh Rully Arya Wisnubroto. (Semut/E-4)

