
PSIKOLOGI Remaja dan Anak Vera Itabiliana muncul kepada remaja agar dapat mengenali emosi supaya bisa menentukan langkah hidup yang lebih baik.
“Semakin remaja mengenali emosi dan nilai-nilainya, semakin mudah ia menentukan langkah dan pilihan hidup yang sesuai,” kata Psikolog
Lulusan Universitas Indonesia itu, dikutip Kamis (13/11).
Vera mengatakan hal tersebut agar para remaja kian memahami gejolak perasaan yang sering muncul.
Selain itu, ia juga merekomendasikan agar remaja dapat menyadari perasaan dan reaksi diri.
Coba kenali kapan merasa senang, marah, kecewa, atau takut dan apa pemicunya, jelasnya.
Langkah seperti menuliskan pikiran dan perasaan dalam jurnal atau buku harian juga dapat menjadi pilihan.
Serta melakukan refleksi nilai dan minat pribadi mengenai hal apa yang penting, yang membuat bersemangat serta belajar menerima kekurangan.
“Tidak harus selalu sempurna untuk diterima,” katanya.
Selain itu, bila dirasa membutuhkan bantuan terkait apa yang dirasakan atau masalah yang dialami bisa meminta bantuan kepada orang tua, guru BK, atau orang yang dianggap terpercaya dan peduli.
Sebelumnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merekomendasikan sejumlah upaya, mulai dari deteksi dini, pengembangan dukungan psikososial dari sekolah, hingga regulasi penegakan dan prosedur penanganan kekerasan, sebagai upaya pencegahan paham ekstremisme pada anak.
Komisioner KPAI Klaster Pendidikan, Waktu Luang, dan Budaya Aris Adi Leksono di Jakarta, Selasa (11/11), mengatakan bahwa menyampaikan menyampaikan secara mendalam atas peristiwa ledakan yang diperkirakan bersumber dari rakitan bahan ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta. Kasus itu melibatkan seorang peserta yang dibesarkan sebagai pelaku tak terduga.
“Peristiwa ini tidak hanya mencederai rasa aman di lingkungan pendidikan, tetapi juga menunjukkan adanya tantangan serius dalam membangun budaya sekolah yang ramah anak dan antikekerasan,” ujarnya.
Hasil pemantauan awal mengungkapkan bahwa pelaku menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan beberapa bulan terakhir: tertutup, serta lebih sering mengakses konten bernada radikal di platform digital.
Motif utama tiba-tiba pelaku diduga merupakan kombinasi antara emosi pribadi yang tidak terkendali dan internalisasi narasi ekstrem dari ruang digital yang mempengaruhi cara berpikirnya. (Semut/Z-1)

