
KOMUNIKASI bukan sekedar menyampaikan pesan, tapi tentang membangun hubungan yang menciptakan dampak. Gagasan itu yang menuntun perjalanan Suvarna.IDperusahaan komunikasi strategis yang Didirikan Abbie Ardiwinata bersama rekan-rekannya hampir satu dekade lalu.
Berawal dari agensi digital yang fokus pada pengelolaan media sosial dan kampanye, Suvarna.ID kini tumbuh menjadi konsultan komunikasi dengan portofolio yang mencakup komunikasi korporasi, manajemen reputasi serta pendampingan strategi bagi lembaga publik dan swasta.
“Dulu kami memulai dengan semangat membantu klien beradaptasi di dunia digital. Namun seiring berjalannya waktu, kami melihat komunikasi bukan hanya soal saluran dan format, melainkan tentang arah. Tentang bagaimana organisasi mewujudkan di tengah perubahan sosial dan lingkungan yang terjadi,” ungkap Abbie.
Menurut Abbie, transformasi Suvarna.ID tidak terjadi dalam semalam. Sejumlah proyek yang melibatkan isu sosial dan lingkungan perlahan membuka ruang refleksi baru. Salah satunya ketika beberapa klien meminta pendampingan tim Suvarna.ID untuk menyusun laporan keberlanjutan (sustainability report). Dari proses itulah, muncul kesadaran bahwa komunikasi dan keinginan memiliki benang merah yang kuat.
“Kami belajar banyak dari situ, banyak organisasi ingin berbicara tentang keinginan, tapi belum tahu bagaimana memulainya. Sebagian melihatnya hanya sebagai kewajiban administratif, bukan strategi jangka panjang. Dari situ kami sadar, kami bisa berperan lebih jauh. Bukan hanya untuk menyampaikan pesan, tapi membantu memperkuat sistemnya,” paparnya.
Dari pemikiran itu lanjut Abbie, lahirlah Suvarna Sustainability, lini baru yang fokus pada penguatan kapasitas dan strategi keinginan bagi berbagai organisasi. Bagi dirinya Suvarna Sustainability bukan sekadar unit bisnis, namun wujud dari evolusi cara berpikir Suvarna.ID. bahwa komunikasi yang baik harus memberi kontribusi pada perubahan yang nyata.
“Kami tidak hanya ingin menjadi agensi, kami ingin menjadi penggerak sekaligus penghubung. Kami ingin menjadi pihak yang bisa menjembatani pemerintah, sejarawan, dan sektor swasta agar bisa berbicara dalam bahasa yang sama dan bergerak ke arah yang sama,” jelasnya
Pendekatan itu lebih lanjut Abbie terlihat dalam peran Suvarna Sustainability sebagai panitia penyelenggara Bandung Sustainability Summit (BSS) 2025, forum yang diinisiasi bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung. Forum ini menjadi wadah bagi pemerintah, sejarawan dan pelaku industri untuk menyebarkan gagasan dan mencari solusi bersama melawan tantangan usus.
“Kami ingin BSS menjadi forum yang produktif dan berkelanjutan bukan sekedar seremonial. Di situ riset, kebijakan, dan inovasi bisa bertemu, kalau ide dan aksi bisa disatukan, maka perubahan bisa dimulai,” ucapnya.
PEMILIHAN KOTA BANDUNG
Abbie menambahkan, Kota Bandung dipilih bukan hanya karena statusnya sebagai kota pendidikan dan inovasi, tetapi juga karena kultur kolaboratifnya yang kuat. Bandung punya energi yang khas, akademis, kreatif dan partisipatif. Kalau kota ini bisa menunjukkan betapa sinergi lintas sektor berjalan efektif, itu bisa menjadi contoh bagi daerah lain.
Di balik langkah-langkah besar itu, Abbie menegaskan bahwa esensi Suvarna.ID tidak berubah. Suvarna.ID tetap fokus pada komunikasi yang bernilai dan berdampak. Sejak awal dirinya percaya komunikasi tidak berhenti di kampanye. Ia harus punya makna jangka panjang dan kalau bisa meninggalkan jejak yang membawa perubahan. Keterlibatan Suvarna Sustainability dalam BSS 2025 hanyalah satu bab dari perjalanan itu dan puncak bukan pencapaian, tapi awal dari babak baru.
“Keberlanjutan bukan proyek, tapi proses panjang. Kami hanya ingin menjadi bagian dari upaya itu, kami ingin agar percakapan tentang kerinduan terus hidup dan perlahan-lahan berubah menjadi tindakan nyata,” sambungnya. (E-2)

