
Tes Darah Sederhana Dapat Mengungkap Siapa Yang Berisiko Tinggi Kembali Kambuh Kanker Kulit Setelah Operasi Pengangkatan Tumor.
Tes ini mampu mendetekssi fragmen DNA Tumor Hanya Melalui Penganganf Sampel Darah, utuk Mengidentifikasi Keberadaan melanoma Stadion III, Yang Tidak Dapat Terlihat Melalui CT Scan. Meskipun Belum Sempurna, Tes Ini Dapat Membantu Menandai Pasien Yang Yang Membutuhkan Pengobatan Agresif Karena Kankernya Kemunckinan Besar Akan Kambuh.
“Kami Membayangkan Tes Ini Digunakan Untuc memantau Pasien Dari Waktu Ke Waktu (setiapkin setiap Bulan atuu setiap Beberapa Selama 1-3 Tahun Pertama, Operasi, Kembala Kembala Kembala Kembala Kembala Kembala,” Kembala Kembala Kembala Kembala Kembala Kembala, Polsky, Seoran Ahli Onkologi Dermatologis Dari Nyu Grossman School of Medicine.
Jika tes menunjukkan adanya dna tumor, lanjut polsky, dokter dapat memilih unkunakan tek Kanker, Bukan Hanya Satu Jenis Obat Saja.
Melanoma adalah Kanker Pada Sel Melanosit, Yaitu Sel Kulit Berpigmen. Meski Hanya Menyumbang Sekitar 1% Dari Seluruh Kasus Kanker Kulit, Melanoma Menyebabkan Sebagian Besar Kematian Akibat Kanker Kulit Kulit Karena Pangeebarananya Yang Cepat Ke Organ Lain (Metastasis). Detekssi Dini Menjadi Salah Satu Cara Terbaik untuk meningkatkan Kemunckinan Bertahan Hidup.
Polsky Dan Timnya Memfokuskan Penelitian Pada Melanoma Stadium III, Yaitu Ketika Kanker telah Menyebar Ke Kelenjar Getah Bening Di Dekatnya, Tempat Sel-Sel Imun Diproduksi Dan Disimpan. Dokter Akan Melakukan Operasi untuk Mengangkat Sebanyak Munckin Kanker, Lalu Dilanjutkan Pengobatan untuk Tumor Sel Tumor Sel Yang Tersisa.
Setelah Itu, Pasien Menjalani ct scan unkari menari Tanda-tanda Kekambuhan. Namun, beberapa pasien memilisi sisa melanoma dalam jumlah Kecil Yang Tidak Bisa Terdetekssi Melalui Ct Scan. UNTUK MIMKAP SISA KANKER LEBIH AWAL, Tim Peneliti Memanfaatkan Sirkulasi DNA tumor (ctDNA), yaitu fragmen DNA yang dilepaskan Dari sel tumor selama siklus hidupnya. Fragmen ini beredar di plasma darah dan dapat dikenali melalui mutasi khas Yang hanya Ditemukan pada sel kanker.
Sebagai Bagian Dari Uji Klinis Yang Lebih Besar Unkuk Kombinasi Obat Kanker, Tim Penelistiisisisisisisisisisisisis Darah Dari 597 Pasien Yang Baru Menjalani Operasi. Mereka Rua Mengumpulkan Sampel Lanjutan Setelah Tiga Bulan, Enam Bulan, Sembilan Bulan, Dan Dua Belas Bulan Sejak Mulai Pengobatan Atau Menerima Plasebo.
Segera Setelah Operasi, 13% Pasien Menunjukkan Adanya Ctdna Dalam Plasma Darah Mereka. Setiap Pasien ini Mengalami Kekambuhan Kanker, Menuru Hasil Penelitian. Pasien buta lebih berisiko melihat melanoma Kembali muncul jika kadar ctdna mereka meningkat selama tes lanjutan atut tetap terbi sepanjang waktu pemantauan.
Kehadiran CtDna MEMPREDIKSI KEKAMBUHAN KANKER DENGAN AKURASI 100%; Tulise Satu Pun Pasien Delangan Hasil Tes Positif Yang Lolos Dari Kekambuhan Melanoma. Namun, Ketidathadiran Ctdna Tenjak Selalu Berarti Pasien Benar-Benar Bebas Kanker. Tes negatif hanya akurat 71% dalam mempredissi bahwa kanker pasien tidak Akan kembali. Beberapa Pasien Yang Tidak Menunjukkan Ctdna Tetap Mengalami Kekambuhan.
“(T) es ini sangat akurat jika hasilnya positif, tetapi tenjak seakurat Itu jika hasilnya negatif,” Ujar Polsky.
HASIL STUDI INI Dipublikasikan Pada 15 April di Jurnal The Lancet Oncology. Langkah BerIKUTNYA, Kata Polsky, Adalah Menyediakan Tes ini di laboratorium patologi molekuler klini agar bisa digunakan untuk menentukan pengobatan. Uji Klini Kemudian Dapat Menunjukkan Apakah Penggunaan Tes Darah Ini Menghasilkan Hasil Pengobatan Yang Lebih Baik Baik Dibandingkan Jika Tidak Menggunakanya – Ukuran Yang Dikenal Sebagai “Kemanfaatan Kemanfaatan.”
“Membuktikan Kemanfaan Kliniis Dari Tes Ini Akan Menjadi Kemjuan Besar Dalam Penanganan Pasien Melanoma Yang Kankernya Telah Menyebar Ke Luar Kulit,” Kata Polsky. (Live Science/Z-2)

