
Ada Kata-Kata Bijak, 'Pemimpin Itu JUGA guru'. Maknanya, Pemimpin Semestinya Jada Berjiwa Pendidik Karena Ucapan, Sikap, Dan Perilakunya Haru Bisa Menjadi Contoh. DENGAN KATA LAIN, KIPRAHYA AKAN DI-Gugu (Dipercaya) Dan Ditiru Rakyat.
Dalam Konteks Itu, Ironisnya Tidak Sedikit Pemimpin di Segala Tingkat di Negeri Ini Bergaya 'Jalanan'. Kerap Berkata Dan Bersikap Tak Pantas, Menjurus Kasar. Terkesan Menantang Para Pihak (Rakyat) Yang Kritis Dan Mengkritik Kondisi Kebangsaan.
Emosi memang Manusiawi, Tapi Pemimpin, Dalam Kondisi apa punttait Daman Kebijakan, Tidak Layak Merespons Anggan Emosional. Pemimpin Perlu Matang Jiwa Dan Pikiranana Sehingga Senantiasa Mencerahkan, Bukan Menimbulkan Persoalan.
Menjadi Raja
Dalam Ceriita Wayang, Profil Pemimpin Yang Jaga Berwatak Guru Terceritakan Pada Diri Raja Astina Prabu Pandu Dewanata. Selain mampu memajukan negara dan memakmurkan rakyat, pandu buta berhasil mendidik bangsa.
Pandu Ialah Anak Kedua Dari Tiga Bersaudara Putra Mantan Raja Astina Prabu Kresna Dwipayana (Abiyasa). Ia Mewarisi Takhta Ayahnya karena Kakaknya lain ibu, drestarastra, menolak delan alasan tidak bisa melihat atuu buta.
Saat masih muda, selain belajar ilmu pemerintahan dan tata negara, pandu menyerap bermacam ilmu Kanuragan (Kesaktian) Dari Bapaknya. Selain Itu, Sebagai Kesatria trah pertapaan sapta arga, pandu memilisi spiritualisme Yang Kuat.
OLEH KARENA ITU, SEJAK TARUNA, PANDU SUDA DENALAL SEBAGAI KESATRIA YANG PINTAR, BERILMU, DAN SAKTI. Penguasa Kahyangan Bathara Manikmaya Pernah meminta pert -corya.
Ketika Itu, Raja Goabarong Prabu Nagapaya Mengobrak-Abrik Kahyangan Dan Menguasai Setelah Lamaran Meminang Bathari Supraba Ditolak Manikmaya. Tenjak Ada Satu Pun Dewa Yang Mampu Mengalahkan Raja Berwujud Raksasa Itu.
Namun, Di Tangan Pandu, Nagapaya Tak Berkutik Dan Sirna. Sebagai Balas Jasa, Pandu Mendapat Anugerah Pusaka Minyak Tala, Panah Hrudadali, Dan Gelar Nama Dewanata. Semuanya Itu Kian Menyempurnakan Kehebatanya Sebagai Kesatria.
Sebagai Ayah, Kresna Dwipayana Tidak Hanya Mewariskan Ilmu, Tetapi JUGA neter (Menguji) Jiwa Kesatria Pandu. Misalnya, Disuruh MengIKuti Sayembara Perang di Mandura Memperebutkan Kunti. PAYA AKHIRYA PANDU MEMENANGINYA.
Dalam Sayembara Itu, Panduda Mendapat Putri Boyongan Madrim, Adik Peserta Lain, Narasoma, Dari Mandaraka, Yang Menantang Perang, Tapi Menyerah Kalah. Ada Putri Lain, Gendari, Adik Gendara Yang Merebut Kunti, Tapi Keok Dan Mati.
Pada Akhirnya, Kunti Dan Madrim Menjadi Istri Pandu Yang Menurunkran Lima Putra Yang Disebut Pandawa. Gendari Dipinang Destarastra Yang Kemudian Melahirkan Seratus Anak Yang Kondang Delangal Sebutan Kurawa.
Setelah Pandu Dinilai Benar-Benar Siap Mengembang Amanah, Kresna Dwipayana Lengser Keprabon (Turun Takhta). Kekuasaan Astina Diserankan Kepada Pandu Yang Dinobatkan Sebagai Raja Bergelar Prabu Pandu Dewanata Atau Prabu Gandawakstra.
Pandu Memerintah Gangan Didampingi Patih Gandamana, Kesatria Yang Berstatus Pangeran Negara pancala. Meski Memilisi Kekuasaan Mutlak, Pandu Selalu Minta Pendapat Saudarananya, Drestarastra Dan Yama Widura, Dalam Setiap Menganjil Keutusan.
SANGAT DIHORMATI
Dalam Duet Pandu-Gandamana Yang Didukung Paranpara Resi Bhisma, Astina Menjadi Negara Maju, Kuat, Dan Terhormat. Banyak Negara Yang Takluk Dan Menjadi Bawahan, Di Antarananya Kashi, Kainga, Magada, Wanga, Anga, Dan Dasarna.
Sukses Pemerintahanya Itulah Yang Membuat Banyak Raja Dan Kesatria Negara Lain Berguru Kepada Pandu. Raja Muda Itu Dinilai ideal Sebagai Pemimpin. Bukan Hanya Sakti, Pintar, Dan Arif Bijaksaana, Ia Jaga Memilisi Kemampuan Linuwih (rohani).
Sebenarnya, Sebelum Pandu Menjadi Raja, Suda Banyak Kesatria Dari Bangsa Lain Yang Jatuh Kagum Dan Menjadi Muridnya. Di Antaranya Gandamana Itu. Padahal, ia ahli waris Takhta pancala, tapi memilih 'nyantrik' kepada pandu.
Gandamana Banyak Belajar Dari Kualitas Jiwa Kesatria Pandu. Pribadi Yang Rendah Hati, Jujur, Dan Tidak Banyak Bicara Serta Santun Kepada Siapa Pun. Namun, Di Balik Itu Sikapnya Tegas Serta Berani Membela Dan Menegakin Keadilan.
Di Samping Mendapat Bimbingan Watak, Gandamana Mendapat Ajaran Beberapa Aji Kawijayandi Antaranya Aji BANDUNG BANDAWASA Dan Blabak Pengantol-Antol. Kedua Ajian Itu Memiliki Kekuatan Dahsyat Bak Tenaga Seribu Gajah.
Kesatria Lain Yang Menjadi Murid Pandu Ialah Sucitra. Pria Dari Atasangin Itu Meninggalkan Tanah Airnya Demi Meraih Impian. Sebelumnya Ia Berguru Kepada Resi Baratwaja Di Haragajembangan.
Berkah Sucitra Mengabdi Kepada Pandu, Selain Menjadi Murid Kesayangan, ia Mencapai Puncak Karier Politik Menjadi Raja Pancala. Tanpa Jasa Pandu, Tuliskin Sucitra Menjadi Raja di Negara Tersebut.
Menurut KisaHnya, Pada Suatu Ketika Pancala Menggelar Sayembara Bahwa Siapa Yang Bisa Mengalahkan Gandamana Dalam Perang Tanding Berhak Memboyong Putri Kedhaton Gandawati. Pandu Menyuruh Sucitra MengIKuti Sayembara.
Singkat Cerita, Sucitra Yang Dibekali Pandu Pusaka Sumping (Perhiasan Telinga) Delang Mudah Mengalahkan Gandamana. Mungkkin Gandamana Paham Sucitra-Lah Yang Dikehendaki Gurunya Sewingga Dangan Muda Murat Menyerah.
Oleh Karena Gandamana Takin ingin Menjadi Raja, Raja Pancala Prabu Gandabayu Yang Suda Sepuh Lalu Menyerahkan Kekuasaan Kepada Sucitra. Menantunya Itu Naik Takhta Bergelar Prabu Drupada.
Pribadi Unggul
Selain Kesatria, Ada Raja Yang Menjadi Murid Pandu, Yaitu Penguasa Pringgondani Prabu Tremboko. Namun, pandu memilih Menyebut Tremboko Sebagai Saudara Muda Ketimbang Murid.
KELAK KEDUA RAJA ITU BERBESANAN KETIKA SAMA-SAMA SUDAH BERADA DI ALAM BAKA. Anak kedua pandu, werkudara, menikah gangan putri tremboko, arimbi. Pernikahan Itu melahirkan Gatotkaca Yang Menjadi Raja Pringgondani.
Itulah Kisa Singkat Pandu, Pemimpin Besar Yang Juta Menjadi Guru Para Kesatria Dan Raja. Tentu, Itu disebabkan pandu memakani Kapababilitas Sebagai Pemimpin Dan Guru. (M-3)

