
DI suatu gang tenang, Gunung Sion, Yerusalemjalan setapak batu membentang dari Makam Raja Daud hingga melewati ruangan-ruangan yang diyakini umat Kristiani sebagai lokasi Perjamuan Terakhir. Namun, kesucian wilayah ini ternoda oleh kejadian kekerasan pada bulan April lalu, ketika seorang pria Yahudi Israel menyerang seorang biarawati Katolik Prancis hingga terjatuh dan menendangnya karena alasan permusuhan agama.
Serangan yang terekam kamera pengawas tersebut hanyalah puncak gunung dari gelombang permusuhan yang kini menghantam komunitas Kristen di Tanah Suci. Nikodemus Schnabelkepala biara dari Dormition Abbey, menegaskan bahwa umat Kristen saat ini sering menjadi sasaran pemukulan, ludahan, dan pemahaman yang sering kali tidak terdokumentasi.
Tekanan tidak hanya terjadi di Yerusalem. Di Taybeh, satu-satunya kota yang dihuni umat Kristen di Tepi Barat, populasinya terus menyusut. Warga menghadapi serangan terus menerus dan tekanan ekonomi dari pemukim Yahudi bersenjata. Suleiman Khouriyeh, Wali Kota Taybeh, mengungkapkan bahwa banyak keluarga telah meninggalkan kota tersebut menuju Amerika Serikat dan Amerika Latin karena merasa tidak lagi memiliki masa depan.
Salah satu contoh nyata adalah Roland Bassir, pemilik pabrik semen di Taybeh. Setelah pabriknya dirusak, kendaraannya divandalisme, dan pekerjanya diancam dengan senjata api oleh pemukim, Bassir terpaksa merumahkan hampir seluruh karyawannya. “Tidak ada masa depan di sini. Setiap hari saya berpikir ini mungkin hari terakhir saya karena saya bisa saja ditembakkan,” ujarnya.
Normalisasi Animositas di Bawah Pemerintahan Sayap Kanan
Banyak pihak di bawah pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang dikenal sebagai pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel, telah menormalisasi kebencian terhadap umat Kristen. Data dari Rossing Center menunjukkan bahwa kejadian berirama terhadap biara dan peziarah meningkat hampir dua kali lipat dari tahun 2023 hingga 2025.
Sorotan tajam yang menarik pada Itamar Ben Gvir, yang kini menjabat sebagai Menteri Keamanan Nasional. Pada tahun 2017, Ben Gvir pernah membela tindakan melontarkan ungkapan Kristen sebagai “tradisi Yahudi kuno”. Ia juga merupakan pengacara yang membela ekstremis Yahudi dalam kasus pembakaran Gereja Multiplikasi pada tahun 2015.
- Populasi Kristen di Israel dan Yerusalem: Sekitar 184.200 jiwa (1,9% dari total populasi).
- Populasi Kristen di Tepi Barat: Bertahan di angka 40.000 hingga 50.000 jiwa karena tingginya angka emigrasi.
- Tren: Pemimpin menyebut data resmi tidak mencerminkan kenyataan karena banyak warga gereja yang terdata sebenarnya tinggal di luar negeri.
Dampak Diplomatik dan Dukungan AS
Ketegangan ini mulai mengancam dukungan dari kelompok konservatif Kristen di Amerika Serikat, termasuk kaum evangelis yang selama ini menjadi pendukung setia Israel. Mike Huckabee, Duta Besar AS untuk Israel yang baru, sempat menuai kecaman dari warga Taybeh setelah ia menarik kembali pernyataannya yang menyebut serangan terhadap gereja setempat sebagai “aksi teror”.
Analis Israel memperingatkan bahwa kekerasan terhadap umat Kristen dapat mengasingkan teman-teman terdekat Israel di panggung internasional. Tokoh-tokoh seperti JD Vance hingga komentator Tucker Carlson mulai menafsirkan perlakuan Israel terhadap minoritas Kristen, yang dapat memaafkan isolasi internasional yang sudah menghadapi Israel akibat konflik di Gaza.
Bagi komunitas Kristen setempat, bantuan kemanusiaan dan sekolah yang baik tidak lagi cukup untuk mempertahankan keberadaan mereka. “Anda butuh harapan untuk tetap tinggal,” pungkas Francesco Ielpo, pejabat senior Vatikan di Yerusalem. Tanpa perubahan kebijakan yang nyata, gereja-gereja bersejarah di Tanah Suci terancam menjadi bangunan kosong tanpa jemaat.

