
PRESIDEN Prabowo Subianto memanggil sejumlah pejabat tinggi sektor ekonomi ke Istana Negara, Jakarta, pada Senin sore (18/5). Langkah darurat ini diambil setelah pergerakan nilai tukar rupiah yang terus ditekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level Rp17.656 per dolar AS, rekor terlemah sepanjang sejarah.
Berdasarkan pantauan di lokasi, para pejabat ekonomi hadir secara bergantian sejak pukul 16.00 WIB. Mereka yang dipanggil hadir antara lain Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani.
Pertemuan tertutup tersebut diadakan guna membahas strategi penyelamatan mata uang garuda dari tekanan global, termasuk potensi pengumpulan biaya impor energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Pertemuan Usai, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengimbau agar masyarakat dan pelaku pasar tetap tenang. Purbaya menegaskan bahwa kondisi depresiasi nilai tukar saat ini murni akibat sentimen jangka pendek dan sangat berbeda dengan krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 silam.
“Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti tahun 1998 lagi. Beda, tahun 1998 itu kebijakannya salah dan ada instabilitas sosial-politik setelah kita resesi setahun. Kita kan sekarang belum resesi, ekonomi justru tumbuh pesat 5,61% pada kuartal pertama kemarin,” ujar Purbaya kepada awak media di kompleks Istana, Senin (18/5).
Purbaya menambahkan bahwa pemerintah bersama Bank Indonesia terus bersinergi melakukan langkah mitigasi. Salah satu strategi yang dipertebal mulai hari ini adalah melakukan intervensi signifikan ke pasar obligasi guna menahan gejolak pasar Surat Utang Negara (SUN).
“Nggak kita takut, fundamental ekonomi kita bagus, fiskal kita bagus. Bagi investor pasar saham, kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari situasi ini akan kembali normal. Jangan takut untuk 'serok bawah' sekarang,” tambah Menkeu.
Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Gubernur BI Perry Warjiyo masih enggan memaparkan hasil mendetail dari rapat instruksi Presiden tersebut. Perry hanya tersenyum dan memastikan otoritas moneter akan menjaga stabilitas rupiah melalui instrumen yang ada.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah di pasar spot pada penutupan perdagangan Senin (18/5) melorot 1,08% ke posisi Rp17.656 per dolar AS. Para analis memproyeksikan, jika tekanan eksternal terus berlanjut, Bank Indonesia berpeluang besar menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini demi menstabilkan nilai tukar. (E-4)

