
Industri pertambangan masih menjadi salah satu pilar utama perekonomian Indonesia. Sektor ini berkontribusi sekitar 12% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta Menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mineral dan batubara mencapai Rp140,5 triliun pada tahun 2024. Selain itu, lebih dari 310.000 tenaga kerja terserap langsung dan peran strategisnya semakin penting dalam menyediakan mineral penting untuk mendukung transisi energi.
Namun, berkat kontribusi tersebut, sektor pertambangan menghadapi tantangan yang serius. Isu emisi karbon, dampak sosial terhadap masyarakat sekitar tambang, hingga persoalan lingkungan dan kesehatan kerja pascatambang menjadi perhatian utama. Kompleksitas ini merupakan pendekatan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh aspek sosial, keselamatan kerja, dan tata kelola yang berkelanjutan.
Untuk memperkuat pemahaman mengenai praktik pertambangan berkelanjutanPT Vale Indonesia Tbk bersama Universitas Indonesia (UI), dengan dukungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menggelar talkshow bertajuk Pertambangan Berkelanjutan untuk Masa Depan: ESG Integrasi & Perspektif Lintas Disiplin.
Forum yang berlangsung di UI ini menjadi ruang dialog lintas disiplin untuk meningkatkan literasi pertambangan berkelanjutan berbasis prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola(ESG). Sebagai institusi dengan pendekatan multidisiplin, UI menilai strategi dalam menjembatani diskusi antara industri, pemerintah, dan mahasiswa.
Wakil Rektor UI Bidang Riset, Inovasi, Kemahasiswaan, dan Alumni, Hamdi Muluk, menegaskan bahwa isu keinginan di sektor tambang menjadi sangat relevan. Ia menilai pengelolaan pertambangan harus dilakukan secara bertanggung jawab dan melibatkan kontribusi aktif generasi muda.
“Kolaborasi antara sejarawan, pelajar, industri, dan pemerintah dinilai penting untuk menghadirkan solusi jangka panjang,” ujar Hamdi.
Dalam sesi diskusi, Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah, memaparkan implementasi ESG dalam operasional perusahaan. Ia menekankan bahwa industri tambang saat ini harus bergerak dari sekadar penambangan yang baik menuju penambangan yang bertanggung jawab.
“Tidak ada masa depan tanpa pertambangan, dan tidak ada pula pertambangan tanpa memikirkan masa depan,” tutur Budiawansyah.
Ia menjelaskan bahwa keinginan telah menjadi bagian dari budaya perusahaan selama 58 tahun, termasuk melalui produksi rendah emisi, pengelolaan limbah dan udara yang berkelanjutan, serta pemberdayaan masyarakat lokal.
Dari sisi kebijakan, Sekretaris Ditjen Minerba Kementerian ESDM Siti Sumilah Rita Susilawati, menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat regulasi berbasis ESG agar praktik pertambangan selaras dengan prinsip keinginan. Ia menekankan bahwa ESG tidak boleh berhenti pada komitmen formal, namun harus terintegrasi dalam sistem tata kelola dan pengawasan.
Sementara itu, Guru Besar K3 UI, Fatma Lestari, mengingatkan pentingnya aspek kesehatan dan keselamatan kerja dalam industri berkeinginan panjang. Bagaimanapun, keinginan harus berorientasi pada manusia dengan memastikan perlindungan pekerja dan masyarakat sekitar tambang.
Melalui forum ini, kolaborasi antara industri, pemerintah, dan perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang inovatif dan berdaya saing global, sekaligus memperkuat ekosistem pertambangan hijau di Indonesia. (E-3)

