
KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Provinsi Riau terus meluas dan bahkan telah menembus hingga 745,5 hektare (ha). Sedangkan karhutla di lahan gambut di wilayah penggiran atau perbatasan dan pesisir telah membawa kabut asap ke Kota Pekanbaru, Riau.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Kabalai Dalkarhut) Sumatra Ferdian Krisnanto kepada Media Indonesia Dikatakan, upaya pemadaman masih terus dilakukan terutama untuk menghambat rembetan atau melokalisir dan agar tidak memperluas luasan.
“Kami juga berupaya agar tidak terjadi bencana secepatnya. Kondisi angin bertiup dari utara ke selatan, jadi ada potensi asap dari lokasi-lokasi kebakaran di pesisir menuju Pekanbaru,” kata Ferdian kepada Media Indonesia, Jumat (13/2).
Dijelaskannya, sejauh estimasi ini lapangan hasil ukur kasar dengan GPS per pagi ini didapat total luas pada 8 lokasi telah mencapai 745,5 ha. Diantaranya Desa Karya Indah, Kampar seluas 2 ha, Bukit Timah, Dumai seluas 2 ha, Rantau Bais, Rokan Hilir (Rohil) seluas 2 ha, Sukarjo Mesim, Bengkalis seluas 50 ha berstatus lahan hutan lindung atau HL. Kemudian Tanjung Leban, Bengkalis seluas100 ha berstatus hutan produksi atau HP. Selanjutnya Teluk Meranti, Pelalawan seluas 3,5 ha berstatus lahan peruntukkan lain (APL), Pulau Muda, Pelalawan seluas 21 ha, dan Teluk Beringin Pelalawan seluas 565 ha (APL, HP, HL).
“Wilayah kebakaran ada beberapa status, ada yang masuk HP, APL. Rata-rata di lokasinya berdekatan dengan kebun sawit. Ada yang sawit masyarakat ada juga yang berdekatan dengan perusahaan sawit. Yang di kampar wilayah Rimbo Panjang dan Karya Indah posisinya dekat perumahan, ada yang sudah kaplingan ada nama pemiliknya,” papar Ferdi.
Ia mengungkapkan, indikasi karhutla terjadi akibat berbagai macam hal. Dari awalnya upaya pembersihan lahan hingga akibat terpaan angin kencang.
“Indikasi macem-macam seperti di Pulau Mendol informasi dari tim saya awalnya ada membersihkan masyarakat lahan dengan membakar sisa-susa tumpukan (merun) karena angin kencang jadi tidak terkendali. Yang di Kampar tadi indikasi pembersihan lahan bisa jadi untuk perumahan atau kebun karena Selain-sampingnya sudah kaplingan-kaplingan,” ungkap Ferdi.
Ia menambahkan, untuk cuaca beberapa lokasi kebakaran ini yang hampir 20 hari tidak turun hujan.
“Ini menyulitkan kami mendapatkan sumber pemadaman udara dan kondisi bahan bakaran yang juga kering plus yang gambut sudah kering dengan tinggi muka air tanah minus hampir 90-an cm. Wilayah-wilayah pesisir Riau CH (curah hujan) sudah sangat minim,” jelasnya.
Mengenai kendala-kendala lapangan, menurut Ferdi, mulai dari sumber udara pembuatan pemadaman yang semakin berkurang, akses ke lokasi yang jauh dan jelek sehingga beberapa lokasi pemadaman harus menginap di TKP (tempat kejadian perkara).
“Seperti yang di Tanjung Leban ini. Bahan bakaran kering berlimpah dan angin kencang sering berubah arah sehingga meningkatkan potensi bahaya bagi personel manggala agni yang berada di kepala api,” ungkap Ferdi.
Ia juga menambahkan, guna mencari solusi cepat, Manggala Agni kemarin bersama para pihak mengadakan rapat di markas Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan pemadam kebakaran (BPBD dan Damkar) Riau.
“Kami rapat di BPBD Provinsi Riau dengan kesimpulan rekomendari penetapan status Siaga Darurat Provinsi.Saat ini kabupaten yang sudah menetapkan status Siaga Darurat adalah Kabupaten Pelalawan dan proses di Kabupaten Bengkalis,” tutupnya.(RK/E-4)

