
HASIL AUTOPSI ULANG THADAP JENAZAH Juliana Marins Di Brasil Menunjukkan Temuan Yang Tidak Jauh Berbeda Hasil Autopsi Sebelumnya Di Indonesia. Pemerintah Brasil Secara Resmi Mengumumkan Hasil Tersebut Pada Kamis (10/7) Di Rio de Janeiro, Memperuat Kesimpulan Bahwa Juliana Meninggal Akibat Cedera Serius Setelah Jatuh Dari Ketinggian Mendaki Mendaki Gunung RinjaniLombok.
Dilansir Media Brasil, g1.globo.comHasil Autopsi Menunjukkan Bahwa Peyebab Langsung Kematian Adalah Perdarahan Internal Akibat Trauma Berat Yang Dialami Juliana Usai Terjatuh Di Jatur Pendakian. Trauma Tersebut Menyebabkan Kerusakan Pada Sejumlah Organ Vital. Kondisi Inii Sesiai Dengan Dampak Benturan Berenergi Kinetik Tinggi.
Juliana Bertahan Hidup 10-15 Menit Setelah Benturan
Dokumen Autopsi Dari Brasil Bua Menyebut Bahwa Juliana Sempat Bertahan Hidup Sekitar 10 Hingan 15 Menit Setelah Insiden Benturan Keras, Namun Dalam Kondisi Tak Mampu Bergerak Atau Merespons. Para Ahli di Brasil Mengenyamping Kemungkkini Bahwa Korban Hidup Dalam Jangka Waktu Yang Lama Setelah Benturan.
Temuan ini mirip gangan hasil autopsi di Indonesia Yang Menyebut Juliana Bertahan Selama Kurang Lebih 20 Menit Seusai Benturan Keras.
HASIL TIDAK Jauh BBEDA DENGAN DI INDONESIA
HASIL AUTOPSI ITU DIUMKAPKAN OLEH Dokter Forensik Indonesia Bahwa Juliana Bertahan Hidup Sekitar 20 Menit Setelah Jatuh. Dokter Spesialis Forensik RS Bali Mandara, DR. IDA BAGUS PUTU ALIT PAYA 27 Juni Lalu Menjelaskan Bahwa Peyebab Utama Kematian Juliana Adalah Luka Berat Akibat Benturan Bedaa Tumpul, Terutama Di Bagian Puncgung. Benturan keras tersebut memicu pendaranan hebat, khususnya di rongga dada.
“Kalau Kita Perkirakan 20 Menit (Setelah Luka Benturan),” Kata Putu Alit Saat Itu.
Dalam Pemeriksaan, Ditemukan Banya Tulan Patah di Dada, Tulang Belakang, Puncgung, Dan Paha. Patah Tulu Tulan Tersebut Menyebabkan Organ Kerusakan Dalam Dan Memicu Perdarahan Masif, Terutama Di Area Dada.
“Dari Patah-Patah Tulan Inilah Terjadi Organ Kerusakan Dalam Dan Pendarahan,” Ungkapnya.
Kronologi Singkat Kecelakaan Juliana Di Rinjani
Juliana Marins Memulai Pendakian Gunung Rinjani Pada Jumat, 20 Juni 2025, Melalui Jalur Sembbalun, Bersama Lima Pendaki Lain Dari Berbagai Negara Serta Satu Pemandu. Pada Hari Kedua Pendakian, ia Merasa Lelah Dan Meminta Istirahat Di Kawasan Cemara Torgara, Yang Berada Pada Ketinggia 2,900-3,000 meter di atas Permukaan Laut (MDPL).
Sekitar Pukul 04.00–05.00 Wita, Sabtu 21 Juni, Juliana Diduga Terperosok Ke Jurang Saat Duduk Terlalu Dekat Delangan Tepi Tebing. Ia Jatuh Ke Arah Danau Segara Anak. Jenazahnya Berhasil Dievakuasi Oleh Tim Sar Pada 25 Juni 2025 Setelah Pencarian Ekstrem Selama Beberapa Hari.
Permintaan Autopsi Ulang Dari Keluarga
Pihak Keluarga Yang Masih Menyimpan Sejumlah Keraguan Terkait Waktu Kematian Dan Kemunckinan Kelalaan Otoritas Setempat, Keminta Meminta Autopsi Ulang Di Brasil. Jenazah Juliana Diterbangkang Ke Kampung Halamanyaa Dan Dimakamkan Di Rio de Janeiro Pada Jumat, 4 Juli 2025. (P-4)

