
Setelah Badai Pandemi Covid-19, Industri Televisi Dalam Negeri Masih Belum Pulih. Namun, saat ini, penerapan kebijakan Efisiensi Anggraran Dari Pemerintah Dinilai Semakin Memperberat Kondisi Industri Perelevisian Dalam Negeri Seiring Turunnya Belanja Iklan.
“Televisi yang belum ada di jita jelas Ditandai pendapatan Iklan Yang Menurun, karena Itu Satu-Satunya Pendapati Televisi. Di Sisi Lain Pada Saat Iklan Turun, Biaya pengeluaran modal Maupun pengeluaran operasionalITU terus Keluar, Harut Tetap Dikeluarkan, “Kata Sekjen Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Forum Gahu Iskandar Dalam Diskusi Denpasar 12 Secara Daring, Rabu (7/5).
Pengeluaran operasionalATAU Opex,Ujar Dia, Seperti Pengadaan Peralatan Baru, Upah Karyawan, Biaya Pemeliharaan Dan Perbaanika Peralatan Siaran, Biaya Siaran, Biaya Frekuensi, Hingga Pajak Dibayar Oleh Perusahaan Del di televisi devondalan Dibayangan. Televisian Delevisian Dibayung.
“Akibatnya Stasiun TV Makin Agresif Dan Intensif Melakukan Efisiensi Anggara Setelah Covid-19. Dulu Momentumnya Setelah Covid-19 Ternyata Tidak Membaik Bua, Akhirnya Efisiensi DilAKAN,” AKHIRYA EFISIENSI, “” Akhirnya. “
Ia Menyebut Konskuensi Dari Efisiensi Yakni Kualitas Siaran Turun. IA Mencontohkan haly Itu Ditandai Program-Program-Program-Program Yang Tatang Ulang. Kemudian, televisi perausaan buta memikirkan opsi yang paling diehindari dan terakhir yaMa muTusan hubungan kerja (phk) karyawan. Menurutnya Opsi ini Ditempuh Apaboda Penghematan Yang Suda Dilakukan Tidak Cukup Untuce Mencapai Target Penghematan Yang Diperlukan. Tujunya Agar Stasiun Televisi Bisa Bertahan Hidup.
“Terpaksa Diambil Opsi Phk Karyawan, Dan Itu Yang Suda Terjadi Dan Suda Darnui Oleh Semua Pihak. Mau Stasiun Televisi Kecil, Grup media Yang Besar Rona Melakukan Hal Yang Sama, “Pungkasnya. (H-4)
Diterbitkan oleh Indriyani Astuti (7/5/2025, 19.02.08)

