
Para Astronom Menemukan Awan Molekul Paling Dekat Gelan Bumi Yang Pernah Darahahui. Penemuan ini anggota Mereka Kesempatan langka unkamati lebih dekat proses daur ulang materi di alam semesta, proses Yang yang menjadi bahan baku lahirnya bintang dan planet baru.
Awan Ini Dinamai “EOS“, sesuai nama dewi fajar dalam mitologi yunani. eos merupakan gumpalan gas hidrogen hidrogen Berbentuk Bulan Sabit Yang Terletak Sekitar 300 Tahun Cahaya Dari Bumi.
Lebarna sekitar 100 tahun cahaya, atuu kira-kira Sebesar 40 Bulan Bumi Yang Disusun Berdampingan, Menjadikananya Salah Satu Struktur Terbesar Di Langit.
“Ukuranyaa Luar Biasa Besar, Dan Selama ini.
Meskipun ukuranya sangat Besar Dan Jaraknya Relatif Dekat, Eos Sulit Terdetekssi Karena Kandungan Karbon Monoksidanya (CO) Sangan Rendah. Padahal, co biasanya menan penanda utama yang digunakan astronom untuk perkenali aran molekul.
Namun, Kali ini para Peneliti Berhasil Menemukan Eos Lewat Cahaya Berpendar (Fluoresensi) Dari Molekul Hidrogen di Dalamnya. Metode Baru Ini Bisa Membuka Peluang Luluk Menemukan Banyak Awan Tersembunyi Lain Di Galaksi.
“Pasti Masih Banyak Awan Gelap Tanpa Co Yang Menunggu UNTUK Ditemukan,” Ujar Burkhart.
Hidrogen molekuler adalah zat paling melimpah di alam semesta. Delangan Menemukan Dan MEMPELAJARI AWAN SEPERTI EOS, para astronom bisa menemukan cadangan Hidrogen Yang Sebelumnya Tak Terdetekssi, Dan Memperkirakan Seberapa Banyak Bahan Yang Tersedia UNTU -PEMBENTUMAN BINTANG DAN PLANET.
Para Peneliti Melaporkan Penemuan Tersebut Dalam Sebuah Makalah Yang Diterbitkan Pada Tanggal 28 April Di Jurnal Nature Astronomi.
“Awan Ini Benar-Benar Benar Dalam Kegelapan”
Burkhart Menemukan Eos Saat Menanalisis Data Lama Dari Spektrograf di Satelit Sains dan Teknologi Sains-1, Yang Diluncurkan Ke Orbit Bumi Pada 2003 Untucon Memetakan Distribusi Gas Panas Di Galaksi Bima Sakti.
Seperti halnya prisma Yang memecah cahaya, alat spektrograf di satelit ini memecah cahaya ultraviolet jauh menjadi spektrum panjang gelombang.
Hal ini memuncajan ilmuwan Mengenali Cahaya Yang Dipancarkan Oleh Berbagai Molekul. Di Wilayah Langit Yang Tampaknya Kosong, Data Molekul Hidrogen Justru Menunjukkan Bahwa Eos
“Benar-Benar Bersinar Dalam Gelap,” Kata Burkhart Dalam Pernyataan Dari Rutgers.
“ITU Benar-Benar Kebetulan,” Katananya Kepada Live Science. “Data Sedang Melihat Ini Dan Melihat Ada Struktur. Saya Berpikir, 'Hah, ini apa? Unik Sekali,'” Lanjutnya.
Bentuk Bulan Sabit Eos Terbentuk Akhat Interaksi Delangan Struktur Besar Lain Di Langit, YaIta North Polar Spur Wilayah Luas Berisi Gas Terionisasi Yang Membentang Dari Bidang Bima Sakti Hinggga Ke Kutub Langit Utara.
BENTUK EOS SEJAJAR DENGAN POLAR Utara Spur di Garis Lintang Tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa energi dan radiasi Dari struktur besar tersebut kemungkkinan badi ledakan supernova ortau angin bintang telah memengaruhi dan membentuk gas di sepititarinya, termasuk eos.
Berdasarkan simulasi yang melacak perkembangan Eos terutama bagaimana cadangan hidrogen molekul di dalamnya terkikis oleh foton dan sinar kosmik dari North Polar Spur dan sumber lain diperkirakan awan ini akan menguap dalam waktu sekitar 6 juta tahun.
Penelitian Lanjutan Menggunakan Data Dari Teleskop Antariksa Gaia Milik Badan Antariksa Eropa (ESA), Yang Baru Saja pensiun, Mencoba menari Tanda-Tanda Pembentukan Bintang Dios.
Temuananya Yang Belum Melalui Proses Peer-Review Menunjukkan Bahwa SEJAUH INI BELUM ADA AKTIVITA PEMBENTUMAN BINTANG BESAR DI AWAN TERSEBUT. Namun, Masih Belum Bisa Dipastikan Apakah Eos Akan Sempat Membentuk Bintang Sebelum Menghilang, Ujar Burkhart.
Burkhart Dan Timnya Sedang Mengembangkangkan Konsep Misi UNTUK Pesawat Luar Angkasa Nasa Yang Akan Dinamai Sesuai Nama Awan ini.
Teleskop Antariksa “EOS” ini nantinya Akan Mengamati Panjang Gelombang Ultraviolet Jauh Unkukur Kanditugan Hidrogen Molekuler Di Berbagai Awan Di Galaksa Bima Sakti Termasuk Awan Eos Sendiri. Tujuanana: Data Menyusun Lengkap Tentang Pembentukan Dan Penghancuran Gas Hidrogen Molekuler.
“Masih Banyak Peranya Yang Belum Terjawar,” Kata Burkhart. “Permulaan ini baru,” Tambahnya.
Sumber: livescience.com

