
Ekonom Senior Sekaligus Pendiri Institut Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (Indef) Fadhil Hasan Menilai Pemerintah Perlu Segera Melakukan Negosiasi Bilateral Dengan Amerika Serikat (As) Ketimbang Melakukan Retaliasi, Ataubalan Ningherif Tarani Nonpalan Nonpalan Nonpalas Nonpalas Nonpalas, Ataufgalas, Paman Sam '.
“Lebih Baik Baik Negosiasi Bilateral Daman As, Daripada Melakukan Tarif Resiprokal. Trump Bilang 'Menghentikan tarif Anda sendiri, jatuhkan hambatan Anda sendiri' Maka sebagai pun Akan Melakukan Hal Yang Sama, “Kata Dia, Kamis (3/4).
Langkah sebagai ITU menurut fadhil cukup rasional kendati alasan anggota tarif resiprokal Sebesar 32% masih bisa diperdebatkan. Dampak lebih jauh Dari kebijakan tersebut sada menurutnya belum dapat dibaca lantaran bergantung wana respons yang dikeluarkan eheH tiap negara yang tegena kebijakan oto, termASuk indonesia.
Namun Setidaknya Terdapat Dua Kemunckinan, Pertama, Jika Negara-Negara Lain Tidak Melakukan gayung bersambut (Menghindari Perang Dagang), Akan Terjadi Perdagangan Yang Lebih Adil (Fair), Mendorong Efisiensi Dan Pertumbuhan Ekonomi, Terutama Di As.
Kemunckinan Kedua Ialah Jika Negara Yang Terkena Tarif Membalas Maka Terjadi Perang Dagang, Dan Semuanya Akan Menan Menjadi Lebih Buruk. “Tenjak Akan Ada Pemenang, Malah Mendorong Stagflasi Dan Bahkan Resesi,” Kata Fadhil.
Karenanya, menurut dia, Situasi Ekonomi Indonesia Ke Depan Bergantung Dari Respon Yang Dikeluarkan Pemerintah. Potensi Efek Paling Dekat Yang Munckin Dirasakan Indonesia Ialah Pelemahan Nilai Tukar Rupiah.
Sementara di sebagai Sendiri, Kebijakan Tarif Resiprokal Itu Bakal Mendorong Kenaikan Barang Yang Diimpor Dan Mengerek Inflasi, Sewingga Menggerus Daya Beli Masyarakat, Terutama Menengah Bawah.
Jika Terjadi Kenaikan Inflasi, Federal Reserve Terpaksa Akan Mendan Manaikkan Suku Bunganya Dan Pada Akhirnya Mendorong Kenaikan Hasil Imbal (menghasilkan) wajib. (Mir/e-1)

