
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan ancaman potensi Tsunami akan terjadi di kawasan Pantai Timur Kalimantan dan Teluk BalikpapanKalimantan Timur. Meskipun selama ini wilayah Kalimantan dikenal relatif aman dari aktivitas gempa besar dibandingkan wilayah lain di Indonesia, para ahli mengingatkan bahwa ancaman tsunami tetap perlu diwaspadai, terutama di wilayah pesisir yang memiliki karakteristik teluk seperti Balikpapan.
Demikian disampaikan, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Rasmid, dalam keterangannya. Ia menjelaskan, wilayah Pantai Timur Kalimantan yang mencakup Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Selatan memiliki potensi terdampak tsunami dari sejumlah sumber gempa di luar wilayah Kalimantan.
Ancaman tersebut, menurutnya, dapat berasal dari aktivitas tektonik di zona subduksi Sulawesi Utara, subduksi ganda Maluku, hingga zona subduksi Filipina. Ketika terjadi gempa besar yang memicu tsunami di kawasan tersebut, gelombangnya dapat merambat hingga mencapai pesisir timur Pulau Kalimantan.
Khusus untuk wilayah Kalimantan Timur seperti Balikpapan, Samarinda, dan Bontang, BMKG juga menyoroti potensi tsunami yang dipicu oleh longsoran bawah laut akibat gempa di jalur sesar Sulawesi.
“Fenomena ini pernah terjadi pada sejumlah peristiwa gempa besar di Indonesia yang memicu pergerakan material dasar laut dalam jumlah besar sehingga menimbulkan gelombang tsunami,” sebutnya.
Rasmid menjelaskan, kontur dasar laut di Selat Sulawesi dan Selat Makassar memiliki kemiringan yang curam. Ketika gempa mengguncang wilayah tersebut, tebing bawah laut dapat runtuh dan memicu longsoran besar yang menggeser massa udara laut secara signifikan.
Gelombang yang terjadi memang diperkirakan tidak terlalu tinggi saat mencapai pesisir Kalimantan. Namun kondisi dapat berubah ketika gelombang memasuki kawasan teluk yang sempit seperti Teluk Balikpapan.
Di dalam teluk, gelombang berpotensi mengalami pemantulan dan penguatan akibat efek superposisi. Fenomena ini dapat meningkatkan amplitudo gelombang sehingga dampaknya menjadi lebih besar dibandingkan saat berada di laut terbuka.
“Karakteristik Teluk Balikpapan menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian dalam kajian risiko tsunami di Kalimantan Timur,” jelas Rasmid.
Selain potensi ancaman alam tersebut, BMKG juga menyoroti pentingnya penguatan sistem mitigasi bencana. Hingga saat ini, Balikpapan dan sebagian besar wilayah Kalimantan belum memiliki sistem peringatan dini tsunami atau Sistem Peringatan Dini(EWS) yang terintegrasi secara menyeluruh.
Saat ini, informasi peringatan dari BMKG masih disampaikan melalui jalur koordinasi kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemerintah daerah sebelum diteruskan ke masyarakat. Mekanisme tersebut dinilai masih memerlukan penguatan agar informasi darurat dapat diterima warga pesisir secara lebih cepat dan efektif.
BMKG menilai pengadaan sarana pendukung, mulai dari perangkat peringatan dini hingga sistem komunikasi darurat, menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi potensi tsunami di masa mendatang.
“Dengan meningkatnya aktivitas pembangunan dan pertumbuhan kawasan pesisir di Kalimantan Timur, edukasi kebencanaan serta penguatan sistem mitigasi menjadi langkah strategi untuk meminimalkan risiko jika terjadi bencana sewaktu-waktu,” tutupnya.(EM/E-4)

