
SITUASI di Teluk Persia kian mendidih. Iran dilaporkan mulai memasang jebakan dan memperkuat pertahanan udara di Pulau Kharg dalam beberapa pekan terakhir. Langkah ini diambil menyusul adanya laporan intelijen mengenai kemungkinan operasi militer Amerika Serikat untuk merebut pulau strategi tersebut.
Pulau Kharg merupakan urat nadi ekonomi Teheran yang menangani sekitar 90% ekspor minyak mentah negara tersebut. Pemerintahan Trump dikabarkan sedang mempertimbangkan penggunaan pasukan darat untuk menangkap pulau kecil ini sebagai tawaran posisi guna memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz.
Risiko Korban Jiwa yang Tinggi
Meski menjadi target strategi, para ahli militer memperingatkan adanya risiko besar bagi pasukan AS. Iran dilaporkan telah menambah sistem rudal berpemandu permukaan-ke-udara (MANPADS) dan menyebarkan ranjau anti-personel serta anti-tank di sepanjang garis pantai yang berpotensi menjadi titik penampakan amfibi.
Pensiunan Laksamana James Stavridis, mantan Komandan Sekutu Tertinggi NATO, memberikan peringatan keras.
“Orang Iran itu cerdas dan kejam. Mereka akan melakukan apa saja untuk menimbulkan korban maksimal pada pasukan AS, baik di kapal-kapal di laut, maupun terutama saat pasukan darat berada di wilayah jangkauan mereka,” ujarnya.
Peringatan Keras dari Teheran
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka memperingatkan “musuh” agar tidak mencoba menduduki pulau-pulau milik Iran. Melalui unggahan di media sosial, ia menegaskan bahwa seluruh pergerakan musuh berada di bawah pengawasan ketat.
“Jika mereka melampaui batas, seluruh infrastruktur vital negara regional tersebut, tanpa batasan, menjadi sasaran serangan tanpa henti,” tegas Ghalibaf.
Dilema di Gedung Putih
Hingga saat ini, para pejabat di lingkungan Donald Trump masih memperdebatkan apakah misi darat ini sepadan dengan risikonya. Sekutu AS di kawasan Teluk juga melaporkan keadaan mendesak agar Washington tidak memperpanjang perang dengan menempatkan pasukan di darat. Mereka khawatir penduduk Pulau Kharg justru akan memicu pembayaran Iran terhadap infrastruktur negara-negara tetangga.
Sebagai alternatif untuk menekan Teheran, Stavridis menyarankan opsi blokade lepas pantai. “Ini bisa dilakukan tanpa harus benar-benar mendaratkan pasukan di darat,” tambahnya.
Saat ini, AS telah menyiagakan unit respon cepat amfibi (Marine Expeditionary Unit) dan sekitar 1.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke wilayah Timur Tengah. Meskipun serangan udara AS pada 13 Maret lalu telah melumpuhkan beberapa fasilitas militer di Kharg, kekuatan rudal balistik dan drone Iran di sepanjang pantai tetap menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pasukan Amerika. (CNN/Z-2)

