
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memberikan kejutan kepada para ilmuwan, Senin waktu setempat, dengan mengklaim adanya perkembangan yang “sangat baik” dalam percakapan dengan seorang pejabat tinggi Iran. Pernyataan ini muncul secara tiba-tiba setelah Trump sempat mengakhiri rencana serangan baru terhadap infrastruktur energi Republik Islam tersebut.
Meski demikian, klaim sepihak ini segera dibantah oleh Teheran. Pihak Iran menuduh Trump tengah melakukan manipulasi pasar energi global. Terlepas dari bantahan tersebut, pasar bereaksi positif; harga minyak dunia dilaporkan anjlok, sementara bursa saham melonjak karena investor melihat adanya celah deeskalasi.
Simpang Siur Sosok Perunding
Laporan dari Axios yang mengutip sumber pejabat Israel Menyebutkan sosok yang berkomunikasi dengan Trump adalah Mohammad Bagher GhalibafKetua Parlemen Iran sekaligus tokoh non-ulama paling berpengaruh saat ini. Namun, Ghalibaf melalui media sosial X menegaskan “tidak ada negosiasi” yang sedang berlangsung.
“Trump mencoba memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta melarikan diri dari rawa tempat AS dan Israel terjebak,” tulis Ghalibaf.
Senada dengan itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengakui adanya pesan dari “negara-negara sahabat” mengenai permintaan AS untuk mengirim guna mengakhiri perang, namun ia membahas pembicaraan tersebut telah terealisasi.
Sikap Kontradiktif Israel
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui adanya kemungkinan kesepakatan setelah berbicara dengan Trump. Namun, Netanyahu menegaskan militer Israel (IDF) tidak akan mengendurkan serangan ke Iran dan Lebanon.
Trump percaya ada peluang untuk memanfaatkan pencapaian luar biasa IDF dan militer AS guna mewujudkan tujuan perang dalam sebuah perjanjian, perjanjian yang akan menjaga kepentingan vital kita, ujar Netanyahu. “Pada saat yang sama, kami terus menyerang baik di Iran maupun di Lebanon.”
Dampak Ekonomi Global
Ketegangan di Selat Hormuzjalur bagi seperlima minyak mentah dunia, telah menjadi ancaman serius bagi perekonomian global. Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan jika perang berkepanjangan, krisis energi kali ini bisa lebih buruk daripada krisis minyak tahun 1970-an.
Sesaat setelah klaim Trump menyebutkan, harga minyak mentah Brent merosot tajam sekitar 12 persen menjadi 98,95 dolar AS per barel, setelah sebelumnya sempat bertahan di atas US$100.
Syarat dan Tekanan
Trump menyebutkan beberapa poin utama perjanjian, termasuk tuntutan agar Iran menghentikan ambisi nuklirnya dan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya. Namun, ia juga tetap memberikan peringatan keras. Jika pembicaraan gagal dalam lima hari ke depan, AS mengancam akan kembali melanjutkan serangan udara secara masif.
Hingga saat ini, ribuan Marinir AS melaporkan tengah menuju Timur Tengah sebagai langkah antisipasi jika diplomasi buntu dan operasi militer untuk mengamankan aset minyak atau membuka paksa Selat Hormuz harus dilakukan. (AFP/Z-2)

