
FILM Indonesia terbaru berjudul Senin Harga Naik resmi menghiasi layar lebar pada momentum Lebaran 2026. Jangan terkecoh dengan judulnya yang terdengar seperti jargon iklan properti, karena film garapan sutradara Dinna Jasanti ini justru merupakan drama keluarga yang sangat emosional dan siap membuat mata Anda sembap.
Sinopsis Film Senin Harga Naik: Dilema Karir dan Warisan Keluarga
Kisah berpusat pada Mutia (Nadya Arina), seorang perempuan yang berambisi bekerja sebagai agen properti sukses. Tiga tahun lalu, Mutia meninggalkan rumah setelah terlibat pertengkaran hebat dengan ibunya, Retno (Meriam Bellina). Mutia ingin membuktikan bahwa ia bisa sukses dengan caranya sendiri tanpa campur tangan sang ibu yang dikenal keras kepala.
Ironisnya, kesuksesan Mutia justru membawa ke sebuah dilema besar. Ia mendapatkan promosi jabatan menjadi General Manager dengan syarat utama: harus berhasil membujuk pemilik toko roti legendaris bernama “Mercusuar” untuk menjual lahannya demi proyek pembangunan properti perusahaan. Masalahnya, pemilik toko tersebut, tapi yang lain adalah ibunya sendiri, Retno.
Kepulangan Mutia ke rumah tidak disambut dengan pelukan hangat, melainkan luka lama yang kembali terbuka. Ia harus bekerja sama dengan kakaknya, Amal (Andri Mashadi), dan adiknya, Tasya (Nayla D. Purnama), untuk melunakkan hati sang ibu yang mempertahankan toko roti meninggalkan keluarga tersebut.
Daftar Pemeran Film Senin Harga Naik
Film produksi Starvision dan Legacy Pictures ini didukung oleh barisan aktor papan atas yang memberikan performa akting sangat organik:
| Aktor/Aktris | Peran |
|---|---|
| Nadya Arina | Mutia |
| Meriam Bellina | Bu Retno |
| Andri Mashadi | Amal |
| Nayla D. Purnama | Tasya |
| Givina Lukita Dewi | Taris |
| Hamis Daud | Atasan Mutia |
Mengapa Film Ini Wajib Ditonton?
Senin Harga Naik bukan sekadar film tentang curamnya bisnis properti. Judul ini menjadi metafora tentang tekanan waktu yang terus mengejar para karakter untuk segera berdamai sebelum semuanya terlambat. Film ini menyuguhkan konflik yang sangat relevan bagi masyarakat Indonesia, mulai dari ketidakmampuan menantu-mertua hingga gengsi antara anak dan orang tua.
Puncak emosi film ini terletak pada bagaimana setiap karakter menyadari bahwa rumah bukan sekadar bangunan fisik yang naik setiap Senin, melainkan orang-orang di dalamnya yang nilainya tak tergantikan oleh materi apa pun. Pastikan Anda membawa tisu yang cukup, karena adegan rekonsiliasi di akhir film dijamin akan menguras udara mata. (Z-4)

