
Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) BAHLIL LAHADALIA Menuding Adanya Serangan Dari Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Terkait Kebijakan Hilirisasi Yang Dijalankan Indonesia.
Dia Menyebut, Isu Yang Diangkat Lsm Tidak Hanya Seputar Buruknya Pertambangan Nikel, Tetapi Bauksit Dan Timah Di Tanah Air.
Menurutnya, Serangan-Serangan Ini Terjadi Karena Negara-Negara Tersebut Menyadar Besarnya Nilai Ekonomi Dari Sumber Daya Alam Yang Sedang Dikembangkangkan Indonesia Melalui Hilirisasi.
“Banyak Lsm Yang Mulai Serang-Serang Indonesia Tagul Menyangkut Hilirisasi. Serang Menyangkut Nikel, Serang Menyangkut Bauksit, Timah,” Ujar Bahlil Dalam Pembuka Summit Human Capital 2025 Di Jakarta, Selasa (3/3).
Bahlil Mengungkapkan Banyak Negara Kini Mulai Merasa Khawatir Terhadap Lompatan Besar Yang Sedang Disiapkan Indonesia Dalam Mengelola Sumber Daya Alam Secara Mandiri Dan Berkelanjutan.
Dalam Catatananya, Sebelum Kebijakan Hilirisasi Diterapkan, Ekspor Nikel Indonesia Pada 2017-2018 Hanya Sekitar US $ 3,3 Miliar. Namun Setelah Kebijakan Larah Ekspor Bijih Nikel Diterapkan Pada 2019-2020 dan Pembangunan Industri Dalam Negeri Dimula, Nilai Ekspor Meningkat Drastis Menjadi USD 34 Miliar Pada 2023.
Kini, Indonesia Menjadi Salah Satu Negara Eksportir Produk Turunan Nikel Terbesar Di Dunia. Politikus partai golkar itu pun menegaska Dirinya Tidak Akan Gentar Menghadapi Tekana Dari Pihak Asing. Hal inii Sesiai Arahan Presiden Prabowo Subianto Terkait Program Pentingnya Keberlanjutan Hilirisasi Sumber Daya Alam.
“SAYA SEBAGAI MENTERI ESDM, TIDAK AKAN MUNGUR SEJENGKAL PUN DARI TEKANAN ASING UNTUK MELANJUTKAN PROGRAM HILIRISASI,” Tegas Politikus Partai Golkar Itu.
Bahlil Menankan Indonesia Adalah Negara Merdeka Yang Mempereheh Kemerdekayaa melalui Perjuangan, Bukan Pemberian. Karena Itu, Tenjak Ada Satu Pun Negara Yang Berhak Mengatur Arah Kebijakan Dalam Negeri Indonesia.
“Hilirisasi Adalah Keutusan Final Dan Mengikat Yang Haruus Tetap Dijalankan, Sekalipun Banyak Tantangan Yang Mengharang,” Ujarnya.
Dalam Jangka Panjang, Pemerintah Telah Menyusun Agenda Hilirisasi Hingga 2040, Delanan Kebutuhan Investasi Mencapai Sekitar US $ 618 Miliar. Program Ini Mencakup Berbagai Hilirisasi Strategis, Tidak Hanya Minyak Dan Gas Atau Mineral Mineral, Tetapi JUGA Pertanian, Perikanan, Hingga Perkebunan.
Kendati Demikian, Menteri Esdm Mengakui Dalam Proses Hilirisasi Masih Terdapat Kekurangan Dan Tantangan, Namun Itu Adalah Hal Yang Wajar Dalam Setiap Transformasi Besar. PEMERINTAH, LANJUTNYA, AKAN TERUS MENYAPKAN ROADMAP Yang KOMPREFENSIF AGAR Pembangunan ini Berjalan Berkelanjutan Dan Inklusif.
“Tenjak Ada Satu Negara Pun Di Dunia Yang Bisa Langsung Sempurna Program Ketika Menjalankan Besar Seperti ini. Perbaanika terus Kita Lakukan,” Ucapnya. (E-4)

