
SETIAP tahun, ratusan ribu siswa di Indonesia bersaing memperebutkan kursi perguruan tinggi negeri (PTN). Pada seleksi UTBK-SNBT 2025, lebih dari 860 ribu peserta mengikuti seleksi, sementara daya tampung hanya sekitar 284 ribu kursi. Artinya, kurang dari peserta yang diterima berhasil.
Persaingan yang ketat sering membuat banyak keluarga memandang keberhasilan masuk PTN sebagai tujuan utama pendidikan tinggi. Namun dalam kenyataan dunia kerja yang terus berubah, para ahli pendidikan menilai bahwa tantangan terbesar bukan hanya gagal masuk PTN, tetapi salah memilih arah pendidikan yang tidak mendukung masa depan karir.
Kondisi ini semakin relevan dengan melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa jumlah kemiskinan di Indonesia masih mencapai jutaan orang, termasuk lulusan perguruan tinggi. Hal ini membuktikan bahwa memiliki gelar sarjana saja tidak selalu menjamin kesiapan menghadapi dunia profesional.
Oleh karena itu, semakin banyak orang tua mulai melihat pendidikan tinggi sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan anak. Dalam memilih kampus, pertimbangannya tidak lagi hanya pada reputasi institusi, tetapi juga relevansi pembelajaran dengan kebutuhan industri serta peluang karir setelah lulus.
Rektor Universitas Binus Nelly, S.Kom., MM, mengatakan bahwa pendidikan tinggi yang tepat harus mampu memberikan nilai nyata bagi masa depan siswa.
“Pendidikan tinggi pada dasarnya adalah investasi masa depan. Lebih dari sekedar nama institusi, yang terpenting adalah bagaimana kampus mampu mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja, sekaligus membekali mereka untuk terus relevan di tengah perubahan zaman,” kata Nelly dikutip dari keterangan tertulis yang diterima, Kamis (26/3).
Ia menambahkan bahwa kampus perlu membangun ekosistem pembelajaran yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga memberikan pengalaman langsung yang relevan dengan industri.
“Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman profesional sejak masih kuliah, memiliki jaringan yang luas, serta memahami dinamika global. Dengan begitu, investasi pendidikan yang dilakukan orang tua dapat benar-benar memberikan hasil konkret dalam perjalanan karir anak,” tambahnya.
Pendekatan ini mengembangkan Binus University melalui ekosistem pendidikan yang terintegrasi dengan industri dan pengalaman global. Melalui program 2,5 Tahun Kuliah, Siap Berkarier, mahasiswa dapat menyelesaikan masa studi lebih cepat dan memanfaatkan waktu untuk mendapatkan pengalaman profesional melalui berbagai program penyuburan misalnya magang, kewirausahaan, penelitian, pengembangan masyarakathingga pengalaman internasional.
Binus University juga memiliki jaringan lebih dari 170 mitra universitas di berbagai negara serta didukung oleh lebih dari 2.200 mitra industri global yang berkolaborasi dalam berbagai program pembelajaran, pengembangan kurikulum, hingga kesempatan magang bagi mahasiswa. Dengan ekosistem tersebut, siswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga membangun pengalaman nyata yang membantu mereka lebih siap menghadapi dunia profesional sejak dini. (Fal / E-1)

