
MEMASUKI pekan kedua, peperangan antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di balik desain peluru di Timur Tengah, garis haluan politik di Washington mulai menajam, memicu pertanyaan besar mengenai seberapa lama konflik ini akan bertahan dan apa dampaknya bagi posisi domestik Presiden Donald Trump.
Berbeda dengan serangan kilat terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu atau penggulingan Presiden Venezuela Nicolás Maduro yang bersifat operasional satu hari, perang kali ini tampak jauh lebih kompleks. Administrasi Trump memberikan kerangka waktu yang simpang siur, mulai dari hitungan hari hingga durasi yang tidak ditentukan.
Trump menegaskan bahwa perang ini hanya akan berakhir dengan “penyerahan tanpa syarat” dari pihak Iran. Ambisi besar untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir yang diprediksi akan memakan waktu lama, bahkan berisiko melibatkan pasukan darat (boots on the ground).
Sentimen Publik dan Lonjakan Harga BBM
Secara politik, perang ini tidak populer. Rata-rata survei dari berbagai lembaga menunjukkan tingkat dukungan yang rendah. Salah satu pemicu utamanya adalah menyalakan harga bahan bakar minyak (BBM). Meski Trump berdalih bahwa kenaikan harga adalah “harga kecil yang harus dibayar” demi keamanan, publik Amerika tampaknya tidak setuju.
Data jajak pendapat Reuters-Ipsos menunjukkan 45% warga Amerika, termasuk 34% pemilih Republik, cenderung menentang perang jika harga BBM terus meroket. Inflasi ini diprediksi akan menjadi beban berat bagi Partai Republik menjelang Pemilihan Paruh Waktu 2026.
Ketidakpastian Justifikasi Perang
Hal lain yang menjadi sorotan adalah inkonsistensi pemerintah dalam menjelaskan alasan mendasar perang ini. Awalnya, alasan yang digunakan adalah bahan bom nuklir Iran, lalu berubah menjadi ancaman rudal balistik (ICBM), hingga klaim terbaru Trump bahwa Iran berencana mengambil alih seluruh Timur Tengah.
“Saya pikir mereka membuat kesalahan besar,” ujar Trump dalam wawancara dengan ABC News, Merujuk pada langkah Iran. Namun, perubahan narasi yang terus-menerus ini menciptakan kesenjangan kepercayaan di mata publik dan analis politik.
Dilema Dukungan Israel dan Korban Sipil
Hubungan AS dengan Israel juga berada di titik krusial. Dukungan warga Amerika terhadap Israel dilaporkan menurun drastis dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, investigasi Pentagon terhadap serangan yang menimpa banyak anak di sebuah sekolah dasar di Iran menambah tekanan internasional.
Pembawa acara Fox News, Laura Ingraham, memberikan peringatan keras kepada pemerintah. “(Pemerintah) harus segera menyelesaikan penyelidikan dan menyelesaikannya secara terbuka. Tragedi mengerikan yang tidak disengaja dari perang ini,” tegasnya.
Kini, pertanyaannya bukan lagi sekedar siapa yang memenangkan pertempuran di lapangan, melainkan sejauh mana basis pendukung MAGA (Make America Great Again) tetap solid di belakang Trump jika korban jiwa terus berjatuhan dan ekonomi domestik kian tercekik. (CNN/Z-2)

