
RAMADAN sering dimaknai sebagai momentum untuk memperbaiki pola hidup, termasuk dalam pengaturan makan dan pengendalian berat badan. Waktu konsumsi yang terbatas mulai subuh hingga mahrib kerap dianggap memberi peluang terjadinya penurunan berat badan.
Namun, kata Kepala Instalasi Gizi RSA UGM, Pratiwi Dinia Sari, perubahan pola makan selama puasa juga dapat memicu kenaikan berat badan jika pemilihan menu dan jumlah kalori tidak terkontrol. Oleh karena itu, pengaturan asupan energi tetap menjadi faktor penentu agar puasa berdampak positif bagi kesehatan.
Puasa Bantu Penurunan Berat Badan
Pratiwi lebih lanjut menjelaskan secara ilmiah puasa berpotensi membantu penurunan berat badan. Pembatasan waktu makan idealnya diikuti penurunan volume dan asupan kalori harian.
Ketika asupan energi berkurang, selanjutnya tubuh akan menggunakan cadangan energi yang tersimpan. Adaptasi ini dapat mempengaruhi berat badan jika dijalankan secara konsisten dan terkontrol.
“Dengan terbatasnya waktu yang tersedia untuk makan atau minum maka harusnya volume dan kalori asupan makanan juga mengalami penurunan, sehingga dapat berefek pada penurunan berat badan,” ujarnya, Jumat (20/2).
Puasa Bantu Kendalikan Nafsu Makan
Menurut Dini, biasa ia dipanggil, puasa juga memicu perubahan hormonal yang berperan dalam pengaturan rasa lapar dan kenyang. Beberapa penelitian menunjukkan adanya pengaruh terhadap hormon leptin dan ghrelin. Kedua hormon tersebut berkaitan dengan sinyal lapar serta kontrol nafsu makan.
Bila dibarengi pola makan sehat dan aktivitas fisik ringan, kondisi ini dapat mendukung pengelolaan berat badan.
“Puasa bisa mempengaruhi nafsu makan menjadi lebih terkontrol, yang dapat membantu menurunkan berat badan jika dikonsumsi dengan pola makan sehat dan olahraga ringan,” jelasnya.
Menu Buka Jadi Kunci
Meski frekuensi makan berkurang, total kalori harian belum tentu lebih rendah. Dini menuturkan bahwa pemilihan jenis makanan sangat menentukan keseimbangan energi.
Banyak menu berbuka memiliki kepadatan kalori tinggi dalam porsi kecil. Jika pilihan makanan saat sahur dan berbuka didominasi menu tinggi kalori, surplus energi tetap bisa terjadi.
“Apabila pemilihan menu makanan saat sahur dan berbuka lebih banyak makanan dengan kepadatan kalori tinggi, maka meskipun frekuensi atau porsi makan lebih sedikit bisa jadi tetap terjadi kelebihan asupan kalori sehingga yang terjadi justru kenaikan berat badan,” tuturnya.
Dini memberi contoh makanan tinggi lemak dan gula yang sering hadir sebagai takjil. Satu potong pisang goreng seberat 50 gram mengandung sekitar 130 kilokalori, mendekati kandungan kalori 500 gram pepaya. Satu sendok makan gula pasir setara dengan kurang lebih 50 kilokalori.
Minuman manis seperti es buah atau sup buah kerap mengandung tambahan sirup dan kental manis yang meningkatkan asupan gula.
“Apabila makanan tinggi lemak dan tinggi gula tersebut menjadi menu yang dipilih saat sahur dan berbuka tentu akan menambah jumlah asupan kalori sehari, dan bila dikonsumsi berlebihan maka bisa menyebabkan kelebihan asupan kalori,” katanya.
Cara Defisit Kalori
Terkait defisit kalori, ia menjelaskan bahwa perhitungan ideal perlu dilakukan secara personal karena kebutuhan gizi setiap individu berbeda. Konseling gizi membantu menentukan kebutuhan energi sesuai usia, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas.
Secara umum, prinsip gizi seimbang tetap menjadi pedoman utama. Porsi sayur dianjurkan setengah piring saat makan utama, disertai lauk hewani maupun nabati serta kecukupan cairan.
“Kalau rekomendasi secara umum ya atur pola makan dengan mengikuti prinsip gizi seimbang,” ujar Dini.
Perubahan pola tidur selama Ramadhan juga mempengaruhi berat badan. Tidur larut malam atau durasi yang kurang dapat mempengaruhi produksi hormon lapar, hormon kenyang, serta kortisol.
Gangguan ritme tidur berdampak pada laju metabolisme tubuh. Dini menyarankan tidur lebih awal dan melakukan power nap singkat pada siang hari selama 20–30 menit.
“Usahakan tidur lebih cepat di malam hari agar jumlah jam tidur tetap cukup dan lakukan tidur siang di siang hari,” pesannya.
Dini menambahkan, aktivitas fisik tetap perlu dijaga selama Ramadhan agar keseimbangan energi tetap terjaga. Olahraga ringan seperti jalan kaki atau latihan beban intensitas ringan dapat dilakukan sesuai kemampuan.
Waktu yang dianjurkan adalah 20–30 menit menjelang berbuka atau setelah berbuka puasa. Ia juga menyarankan berbuka dengan air putih dan tiga butir kurma atau buah potong, memilih satu jenis takjil dalam satu porsi, serta memastikan menu sahur dan berbuka tetap lengkap dan seimbang.
“Tetap lakukan aktivitas olahraga ringan seperti jalan kaki atau latihan beban intensitas ringan sesuai kemampuan,” jelasnya. (AU/E-4)

