
PT PLN (Persero) meminta agar operasional truk pengangkut batu bara yang memenuhi kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Bengkulu dapat kembali beroperasi. Permintaan ini disampaikan menyusul kondisi pasokan batu bara yang saat ini hanya mencukupi untuk sekitar tiga hari operasional pembangkitan.
Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN Rizal Calvary Marimbo menyampaikan, terhentinya pendistribusian batu bara ke PLTU Bengkulu terjadi akibat tidak adanya pertimbangan dari Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru terhadap aktivitas angkutan batu bara. Kondisi tersebut berdampak langsung pada terganggunya rantai pasok energi primer ke pembangkit listrik.
“Saat ini PLTU tidak mendapatkan pasokan batu bara karena adanya desakan dari pemerintah provinsi. Stok yang tersedia sangat terbatas dan hanya cukup untuk tiga hari ke depan,” ujar Rizal dalam keterangan yang diterima, Kamis (22/1).
Ia menjelaskan, PLTU di Bengkulu merupakan bagian penting dari sistem kelistrikan Sumatra, khusnya Sumatra bagian selatan. Gangguan pasokan batu bara berpotensi menurunkan kapasitas pembangkit dan menjamin pasokan listrik di sejumlah wilayah.
“Apabila pendistribusian batu bara tidak segera kembali normal, potensi pemadaman listrik tidak hanya terjadi di Bengkulu, tetapi dapat meluas ke beberapa wilayah di Sumatera Selatan, bahkan hingga Jambi,” tegasnya.
Sebelumnya, pendistribusian batu bara ke PLTU Bengkulu mengalami hambatan akibat gangguan operasional 150 truk batu bara. Pembatasan tersebut berkaitan dengan aspirasi dan tekanan dari pemerintah daerah terkait dampak lalu lintas dan aktivitas angkutan batu bara terhadap lingkungan dan masyarakat setempat.
Namun di sisi lain, batu bara merupakan sumber energi utama bagi PLTU yang menyediakan listrik ke jutaan pelanggan di wilayah Sumatra. Terhentinya pasokan batu bara secara tiba-tiba menyebabkan kerusakan cadangan dan menempatkan sistem kelistrikan dalam kondisi siaga.
“Saya meminta hormat kepada Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru membuka jalan agar truk-truk batu bara segera memenuhi kebutuhan pasokan batu bara di PLTU Bengkulu,” kata Rizal.
PLN menegaskan, pasokan listrik merupakan kepentingan strategis nasional. Hal itu mengingat listrik adalah kebutuhan dasar masyarakat serta penopang utama aktivitas ekonomi, pelayanan publik, dan industri.
PLN menyatakan pemahaman perhatian pemerintah daerah terhadap aspek sosial dan lingkungan. Namun, PLN berharap agar dapat menemukan solusi bersama yang proporsional, sehingga kepentingan daerah tetap terakomodasi tanpa mengorbankan permintaan pasokan listrik bagi masyarakat luas.
“Kami berharap ada ruang dialog dan solusi bersama. Jika pasokan batu bara terhenti terlalu lama, pemadaman listrik menjadi tidak dapat dihindari dan ini akan berdampak langsung pada masyarakat,” ujar Rizal.
PLN saat ini terus melakukan koordinasi secara intensif dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan. Tujuannya memastikan distribusi batu bara ke PLTU dapat kembali berjalan normal dan risiko gangguan listrik dapat diminimalkan. (Ifa/E-1)

